header-int

Islam Masuk Ke Nusantara

Rabu, 04 Nov 2020, 05:25:45 WIB - 14 View
Share
Islam Masuk Ke Nusantara

Islamisasi Nusantara

 

Para pedagang Arab berlayar ke wilyah Asia Tenggara termasuk ke Indonesia pada abad ke 1-4 H/ 7-10 M. Penyebaran Islam pada awal didorong oleh meningkatnya jaringan perdagangan di luar kepulauan Nusantara termasuk kesultanan Mataram (di Jawa Tengah

sekarang). Dan juga kesultanan Ternate dan juga Tidore di Maluku Timur. Pada akhir abad ke -13 , Islam telah berdiri di Sumatera Utara , abad ke -14 di timur laut Malaya, Brunei, Filipina Selatan, di antara beberapa Abdi kerajaan di Jawa Timur abad ke-15 di Malaka dan wilayah lain dari Semenanjung Malaya (Sekarang Malaysia)

A. Situasi dan Kondisi Sebelum Kedatangan Islam

Sebelum kedatangan Islam pada abad XV dan XVI di wilayah Nusantara terjadi perubahan sosial yang luar biasa. Perubahan sosial itu terjadi disebabkan oleh persebaran agama Islam beserta sistem politiknya yang ditandai dengan adanya perubahan keyakinan keagamaan dari masa kejayaan Hindu-Budha ke masa perkembangan agama Islam. Pada saat bersamaan bermunculan kerajaan-kerajaan Islam menggantikan posisi kerajaan Hindu-Budha. Perubahan-perubahan tersebut dilatarbelakangi berbagai faktor diantaranya letak geografis, keyakinan masyarakat, perekonomian, pemerintahan dan kesenian dan sastra. Gambaran situasi dan kondisi wilayah Indonesia sebelum kedatangan agama Islam antara lain:

1. Letak geografis

Indonesia terletak diantara 5°54 LU sampai 11°LS dan 95°01 BT sampai 141°02 BT. Posisi itu menunjukkan bahwa wilayah ini berada di daerah khatulistiwa. Beriklim tropis dengan curah hujan tinggi. Iklim disertai angin musim menyebabkan adanya kemarau dan penghujan dengan waktu yang berbeda-beda pada tiap-tiap wilayah. Keberadaan dua musim ini memberikan pengaruh yang kompleks pada berbagai aspek kehidupan penduduk. Pertanian, pelayaran dan perdagangan erat hu- bungannya dengan musim. Kaitannya dengan perdagangan tidak dapat dilepaskan dari pelayaran. Sebagai wilayah kepulauan dengan posisi sebagai penghubung jalur perdagangan daratan Asia terutama antara Cina dan India menjadikan wilayah ini sebagai wilayah yang strategis dalam jalur perdagangan antar-bangsa. Hal tersebut berdampak panjang terhadap masa depan sejarah bangsa Indonesia.

2. Keyakinan

Sebelum kedatangan Islam, masyarakat Indonesia sudah menganut agama  dankepercayaan yang  berbeda beda dalam kehidupannya. Agama yang  berkembang saat itu adalah agama yang berpusat pada kepercayaan adanya dewa-dewa. Dalam melaksanakan pemujaan terhadap dewa-dewa dibuat artefak keagamaan berupa bangunan atau relik.

Agama Hindu-Budha berkembang pada masa kerajaan Majapahit ditandai dengan bangunan candi yang tersebar di beberapa wilayah dengan arca- arcanya, prasasti dan kitab-kitab juga memberikan gambaran yang jelas terhadap potret keagamaan pada saat itu. Di wilayah yang lain dimana masyarakat tidak tersentuh agama Hindu-Budha, mereka masih mempertahankan Agama asli yaitu kepercayaan kepada roh-roh yang mendiami benda-benda seperti pohon, batu, sungai, gunung) dan dinamisme (kepercayaan bahwa segala sesuatu mempunyai tenaga atau kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia dalam mempertahankan hidup), dan lain-lain. Kepercayaan ini telah tumbuh dan berkembang sebelum agama Hindu-Budha masuk ke Indonesia.

 

Politik dan Pemerintahan

Bukti-bukti tentang politik dan pemerintahan pada masa kerajaan Majapahit dengan menggunakan data-data yang telah didapatkan dari prasasti maka dapat dikemukakan bahwa bangsa Indonesia telah mengenal sistem politik dan pemerintahan jauh sebelum Islam masuk ke Indonesia. Prasasti dari Kutai yang selama ini masih menjadi patokan babak dimulainya masa sejarah Indonesia dapat memberikan gambaran akan adanya sistem pemerintahan masa lalu.

Sedangkan struktur pemerintahan mulai dapat dilacak sejak masa Sriwijaya. Sejumlah prasasti menyebutkan adanya pelaksanaan  dari keputusan raja dilengkapi dengan perincian saksi dan imbalan-imbalan yang diterimanya. Bukti sejarah yang tertulis dan cukup memadai di antaranya adalah Nagara Kartagama. Tulisan ini tidak lagi hanya ditulis berdasarkan pandangan tentang hal-hal yang bersifat mistis serta mitologis, tetapi juga memuat gambaran nyata tentang kondisi sosial budaya, politik, ekonomi kerajaan Majapahit. Setidaknya ini memberikan gambaran yang lebih 

lengkap  tentang  Politik dan Pemerintahan menjelang  berdaulatnya sebuah pemerintahan bercorak Islam.

 

3. Perekonomian dan Perindustrian

Kumpulan rumah penduduk yang tersebar di  lembah-lembah  sungai dan dataran-dataran pegunungan dengan segala aktivitasnya merupakan pendukung utama keberlangsungan stabilitas ekonomi pemerintahan. Daerah pedalaman adalah daerah agraris yang tertutup. Perdagangan, sebagai satu aktivitas ekonomi dilakukan oleh golongan rakyat yang harus  berjalan  dengan pedati atau sampan untuk transportasi dalam negeri. Pertanian merupakan tulang punggung perekonomian sebagian besar pemerintahan yang berdaulat di wilayah Nusantara. Hasil pertanian persawahan menjamin stabilitas dan persediaan makanan secara teratur. Hasil panen berasal dari masyarakat desa dan dari berbagai wilayah kekuasaan lembaga agama (mandala), atau tanah milik perseorangan atau kelompok yang dibebaskan dari pajak (sima). Upeti, pajak, dan kerja wajib diminta dari penduduk untuk kepentingan pegawai atau rumah tangga raja.  

Dalam hal perdagangan di Asia Tenggara. Menurut Van Leur, barang-barang yang diperdagangkan adalah  yang bernilai  tinggi seperti logam mulia, perhiasan, pecah belah, kain tenun, juga bahan - bahan baku untuk keperluan kerajinan. Dari data arkeologis berupa sebaran temuan keramik di sepanjang pantai utara Jawa, bahkan sampai pedalaman dan pulau Sumatera dan Sulawesi, hubungan   dagang wilayah ini dengan Cina telah terjalin sejak abad IX -X M. Sepanjang pantai utara Jawa sejak abad IX M memegang peranan penting khususnya dalam bidang ekonomi.

Para pedagang asing yang datang sampai ke wilayah Majapahit berasal dari Champa, Khmer, Thailand, Burma, Srilangka, dan India." Mereka kemudian sebagian bermukim di Jawa dan bahkan ada beberapa diantaranya yang kemudian ditarik pajak. Sekitar tahun  1249 M telah terdapat dua jalur pelayaran dari dan ke Cina yaitu jalur pelayaran barat dan jalur pelayaran timur. Jawa berada dalam jalur pelayaran  barat  meliputi  Vietnam Thailand-Malaysia-Sumatera-Jawa- Bali-TimorKapal  dagang Cina  berangkata  lewat   jalur   barat   dan kembali ke Cina dengan menyusuri pantai barat daya Kalimantan.

Kehidupan perekonomian di bidang industri juga berkembang. Industri di sini meliputi industri  rumah tangga,  kerajinan, dan industri logam. Ada istilah undagi yang berkaitan dengan kepandaian, keahlian seseorang yang memerlukan keahlian khu sus, misalnya tukang kayu atau ahli bangunan. Dalam beberapa prasasti Bali Kuno ditemukan beberapa ketrampilan membuat suatu benda  (alat) dengan istilah undagi seperti undagi lancang (pembuat perahu), undagi batu (pemahat batu), undagi pengarung (pembuat terowongan), undagi kayu (tukang kayu), undagi rumah (pembuat rumah). Selain itu ditemukan juga kelompok yang disebut pande mas (pengrajin emas),  pande wesi (pengrajin  besi), pande tambra (pengrajin tembaga), pande kangsa (pengrajin perunggu), pande dadap (pengrajin tameng atau perisai) dan lain-lain.

 

4. Sastra dan kesusastraan

Menurut Poerbatjaraka dan Zoetmulder dimana dia tela berhasil menelisik sastra Jawa itu jauh ke masa sebe lum masuknya Islam ke Indonesia, pada masa Mataram  Hindhu-Buddha. Kitab Mahabharata dan Ramayana sangat mungkin telah digubah ke dalam bahasa Jawa-Kuna pada permulaan abad X. Berinduk ke kedua kitab itu maka banyak ditemukan gubahan-gubahan cerita yang sangat mungkin diambil sebagian atau utuh (sargga dan parwwa) menjadi bentuk kakawin atau naskah-naskah yang lain. Bahkan seringkali naskah-naskah tersebut disesuaikan dengan kemuliaan yang ingin didapatkan oleh raja yang berkuasa ketika naskah itu digubah. Tiap - tiap daerah ditemukan deretan naskah-naskah yang sangat penting sebagai sumber sejarah. Ada Carita Parahyangan,  Pararaton, Sutasoma, Nagara-kartagama, Arjunawiwaha,  dan masih  banyak naskah dan kitab yang lain.  Kehidupan  kesusastraan ketika itu tentunya juga tidak terlepas dari para  pujangga  sebagai  penggubah dan pencipta karya sastra. Kaitannya dengan hal ini peran para brahmana dan pemuka agama sangat penting. Selain itu juga telah ditemukan adanya jabatan-jabatan yang menunjukkan adanya indikasi sebagai penulis seperti cerita sang citralekha.

 

B. Teori Islamisasi Nusantara

Membaca sejarah peradaban bangsa Indonesia yang berkaitan masuknya Islam yang dikemukakan para ahli,  tidak bisa dipisahkan dari istilah Nusantara untuk menyebut wilayah Indonesia. Penyebaran  agama Islam di Indonesia pada umumnya berlangsung melalui dua proses. 

Pertama , penduduk pribumi berhubungan dengan agama Islam kemudian menganutnya. Kedua, orang-orang Asing Asia, seperti Arab, India, dan Cina yang telah beragama Islam bertempat tinggal secara permanen di satu wilayah  Indonesia melakukan perkawinan campuran dan mengikuti gaya hidup lokal. Setidak-tidaknya ada empat teori tentang islamisasi awal  di  Indonesia, yaitu teori India, teori Arab, teori Persia, dan teori Cina.

 

 

1. Teori India

Teori ini dikemukan oleh Pijnappel, Moquette, Fatimi dan seorang orientalis Belanda yang meneliti tentang Islam di Indonesia bernama Snouck Hurgronje. Ia menyatakan bahwa agama Islam baru masuk ke Nusantara pada abad ke-13 Masehi yang di bawa oleh para pedagang dari Cambay, Gujarat, India. Memang sebagian besar sejarahwan asal Belanda, memegang teori bahwa Islam di Indonesia berasal dari Anak Benua India. Sementara seorang ilmuwan Barat Pijnappel yang mengkaitkan asal mula Islam di Indonesia dengan daerah Gujarat dan Malabar. Menurutnya, orang-orang Arab bermadzhab Syafi’i yang bermigrasi dan menetap di wilayah India yang membawa Islam ke Nusantara. Snouck Hurgronje kemudian mengembangkan teori ini, dia berpendapat bahwa ketika Islam tiba di beberapa kota pelabuhan Anak Benua India, banyak di antara penduduknya yang beragama Islam dan tinggal di sana sebagai pedagang perantara dalam perdagangan Timur Tengah dengan Indonesia. Lalu mereka datang ke dunia Melayu (Indonesia) sebagai para penyebar Islam pertama, setelah itu disusul oleh orang-orang Arab. Dia mengatakan bahwa abad ke-12 sebagai periode paling mungkin dari permulaan penyebaran Islam di Indonesia. 

Jan Pijnappel (w.1901 M) adalah seorang orientalis dari Universitas Leiden Belanda yang fokus pada manuskrip Melayu. Dia menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia lewat pedagang dari Gujarat. Penjelasan ini didasarkan pada seringnya kedua wilayah India dan Indonesia ini disebut dalam sejarah  Nusantara klasik. Dalam penjelasan lebih lanjut, Pijnapel menyampaikan logika  terbalik, yaitu bahwa meskipun Islam di Nusantara dianggap sebagai hasil kegiatan orang-orang Arab, tetapi hal ini tidak langsung datang dari Arab, melainkan dari India, terutama dari pesisir barat, dari Gujarat dan Malabar. Jika logika ini dibalik, maka dapat dinyatakan bahwa meskipun Islam di Nusantara berasal dari India, sesungguhnya ia dibawa oleh orang-orang Arab juga. 

Sedangkan menurut Maquette ada hubungan antara Gujarat dan Indonesia, dengan alasan bahwa batu nisan makam Raja Malik Al-Saleh yang merupakan raja kerajaan Samudera Pasai Aceh, bertuliskan angka tahun 686H/1297 M dengan menggunakan nisan yang berasal dari Gujarat India. Selain itu batu nisan yang terdapat di makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik, Jawa Timur, juga menunjukkan hal yang sama. Kedua batu nisan tersebut memiliki persamaan bentuk dengan batu nisan yang terdapat di Cambay Gujarat India.

 

2. Teori Arab

Teori ini di kemukakan oleh Sir Thomas Arnold, ia berpandangan bahwa, para pedagang Arab telah menyebarkan Islam ketika mereka menguasai secara dominan perdagangan Barat-Timur sejak abad-abad awal Hijriah atau abad ke-7 dan 8 Masehi. Meskipun tidak terdapat catatan-catatan sejarah tentang kegiatan mereka dalam penyebaran Islam, namun ia berasumsi bahwa mereka juga terlibat dalam penyebaran Islam kepada penduduk lokal di Indonesia.

Dalam sejarah masuknya Islam ke Indonesia Teori ini mengatakan bahwa Islam datang ke Indonesia secara langsung dari Arab, tidak melalui perantara bangsa lain. Beberapa bukti sejarah dikemukakan untuk menguatkan teori ini. Teori ini mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia langsung dari Makkah (Arab) sebagai pusat agama Islam sejak abad ke-7. Salah satu sejarawan yang mendukung teori ini ialah Prof. Hamka. Dia menyatakan bahwa Islam sudah datang ke Indonesia pada abad pertama Hijriah (abad ke 7-8 M) langsung dari Arab dengan bukti jalur perdagangan yang ramai dan bersifat internasional sudah dimulai melalui selat Malaka yang menghubungkan Dinasti Tang di China (Asia Timur), Sriwijaya di Asia Tenggara, dan Bani Umayyah di Asia Barat. Menurutnya, motivasi awal kedatangan orang Arab tidak dilandasi oleh nilai- nilai ekonomi, melainkan didorong oleh motivasi spirit penyebaran agama  Islam  

Dalam pandangan Hamka, jalur perdagangan antara Indonesia dengan Arab telah berlangsung jauh sebelum tarikh Masehi. Hamka berpendapat bahwa pada tahun 625 M, berdasarkan sebuah naskah Tiongkok yang dicatat oleh pendeta Budha I-Tsing yang melakukan perjalanan dari Canton menuju India. Perjalanan tersebut menggunakan kapal Posse, dan pada tahun 674 M ia singgah di Bhoga (yang sekarang dikenal dengan Palembang, Sumatera Selatan). Di Bhoga ia menemukan sekelompok bangsa Arab yang telah bermukim di pantai Barat Sumatera (Barus). Sebagian orang-orang Arab ini diceritakan melakukan perkawinan dengan wanita lokal. Komunitas Arab ini disebutnya sebagai komunitas TaoShih dan Posse. Mereka adalah para pedagang yang telah lama menjalin hubungan perdagangan dengan kerajaan Sriwijaya. Karena demi hubungan perdagangan itulah kemudian kerajaan Sriwijaya memberikan daerah khusus untuk mereka.

 

Sejarawan lain juga mendukung teori Arab adalah Uka Tjandrasasmita, A. Hasymi, Azyumardi Azra dan lain-lain. Selain informasi tersebut, Azyumardi Azra menambahkan, bahwa ditemukannya adaptasi lain yang dilakukan oleh bangsa Indonesia adalah atas pengaruh bangsa Arab ini. Misalnya dari segi bahasa dan tradisi, seperti pada kata dan tradisi bersila yang sering dilakukan oleh bangsa Indonesia yang merupakan tradisi yang dilakukan oleh bangsa Arab atau Persia yang egaliter. Disamping alasan di atas, makam Fatimah Binti Maimun di Leran Jawa Timur semakin menguatkan teori ini. Fatimah binti Maimun bin Hibatullah adalah seorang perempuan beragama Islam yang wafat pada hari Jumat, 7 Rajab 475 Hijriyah (2 Desember 1082 M). Inskripsi nisan terdiri dari tujuh baris, dan berikut ini adalah hasil bacaan Jean Piere Moquette yang diterjemahkan oleh Muh. Yamin terhadap tulisan pada batu Nisan tersebut: Atas nama Tuhan Allah Yang Maha Penyayang dan Maha Pemurah. Tiap tiap makhluk yang hidup di atas bumi itu bersifat fana. Tetapi wajah Tuhan mu yang bersemarak dan gemilang itu tetap kekal adanya. Inilah kuburan wanita yang menjadi syahid bernama Fatimah binti Maimun. Putera Hibatu’llah yang berpulang pada hari Jumiyad ketika tujuh. Sudah berlewat bulan Rajab dan pada tahun 495 H/ 475 H, Yang menjadi kemurahan Tuhan Allah Yang Maha Tinggi Beserta Rasulnya yang Mulia.

Azyumardi Azra menambahkan, Islam datang di Indonesia pada abad ke-7 M, namun baru dianut secara terbatas oleh para pedagang Arab yang berdagang  di Indonesia, dan baru mulai tersebar dan dianut oleh masyarakat Indonesia pada abad ke-12, yang disebarkan oleh para sufi pengembara yang berasal dari Arab. Alasan ini dikuatkan oleh corak Islam awal yang dianut oleh masyarakat Indonesia adalah Islam bercorak sufistik, karena pada masa al-Ghazali (Dinasti Abbasiyah) muncul sufi-sufi pengembara yang bertujuan untuk menyebarkan Islam tanpa pamrih, maka sufi-sufi inilah yang disinyalir datang dan menyebarkan Islam di Indonesia.

 

3. Teori Persia

Sejarawan Hoesein Djajaningrat adalah orang yang mengemukakan teori ini. Dalam Teori ini dinyatakan bahwa Islam masuk ke Nusantara pada abad ke- 13 M di Sumatra yang berpusat di Samudra Pasai. Teori Persia lebih menitik beratkan tinjauannya pada aspek persamaan kebudayaan yang hidup di kalangan masyarakat Islam Indonesia dengan Persia. Bukti-bukti persamaan tersebut di antaranya:

a. Adanya peringatan 10 Muharram atau ‘Asyura atas meninggalnya Husein cucu Nabi Muhammad Saw di Karbala, yang sangat dijunjung oleh kaum muslim Syiah di Iran (Persia). Di Sumatra Barat, peringatan tersebut disebut dengan upacara keranda Tabut yaitu mengarak keranda yang diatas namakan keranda Husain dan disebut ‘keranda Tabut’ untuk dilempar di sungai. Sedangkan di pulau Jawa ditandai dengan pembuatan Bubur Syuro.

b. Adanya kesamaan konsep ajaran sufisme yang dianut Syaikh Siti Jenar dengan Al-Hallaj, seorang sufi besar dari Persia.

c. Penggunaan istilah bahasa Iran (Persia) dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tanda-tanda bunyi harakat. Contoh Jabar – fathah, jer – kasrah, p’es – dhammah

d. Adanya persamaan batu nisan Maulana Malik Ibrahim tahun 1419 M di Gresik dan Malik Al Shalih 1297 M di Pasai yang berasal dari Gujarat. Berdasarkan hal tersebut Hoesein Djajaningrat berpendapat bahwa Gujarat merupakan daerah yang mendapat pengaruh dari Persia yang menganut faham Syiah dan dibawa ke Indonesia.

 

4. Teori China

Teori ini menyatakan bahwa Islam datang ke Indonesia (Jawa dan Sumatra) berasal dari para perantau China. Menurut teori ini, orang China telah berhubungan dengan masyarakat Indonesia jauh sebelum Islam dikenal di Indonesia. Pada masa Hindu-Buddha, etnis China atau Tiongkok telah berbaur dengan penduduk Indonesia terutama melalui kontak dagang. Bahkan, ajaran Islam telah sampai di China pada abad ke-7 M, masa di mana agama ini baru berkembang. Sumanto al-Qurtuby dalam bukunya Arus China Islam Jawa menyatakan, menurut kronik (sumber luar negeri) pada masa Dinasti Tang (618- 960) di daerah Kanton, Zhang-zhao, Quanzhou, dan pesisir China bagian  selatan, telah terdapat sejumlah pemukiman Islam.Teori China didasarkan pada sumber luar negeri (kronik) maupun lokal (babad dan hikayat). Bahkan menurut sejumlah sumber lokal tersebut ditulis bahwa raja Islam pertama di Jawa, yakni Raden Fatah dari Bintoro Demak, merupakan keturunan China. Ibunya disebutkan berasal dari Campa, China bagian selatan (sekarang termasuk Vietnam).

Berdasarkan Sejarah Banten dan Hikayat Hasanuddin, nama dan gelar raja raja Demak beserta leluhurnya ditulis dengan menggunakan istilah China, seperti “Cek Ko Po”, “Jin Bun”, “Cek Ban Cun”, “Cun Ceh”, serta “Cu-Cu”. Nama-nama seperti “Munggul” dan “Moechoel” ditafsirkan merupakan kata lain dari Mongol, sebuah wilayah di utara China yang berbatasan dengan Rusia. Bukti-bukti lainnya adalah masjid-masjid tua yang bernilai arsitektur Tiongkok yang didirikan oleh komunitas China di berbagai tempat, terutama di Pulau Jawa. Pelabuhan penting sepanjang abad ke-15 seperti Gresik, misalnya, menurut catatan-catatan China, diduduki pertama-tama oleh para pelaut dan pedagang China. Daerah yang mula-mula menerima agama Islam adalah Pantai Barat pulau Sumatera. Dari tempat itu, Islam kemudian menyebar ke seluruh Indonesia.

Pada dasarnya semua teori memiliki kelebihan dan kelemahan tidak ada kebenaran yang mutlak dari landasan teori-teori tersebut. Namun hal yang  sangat penting bahwa Islam tersebar di negeri Indonesia tidak dengan jalan kekerasan melainkan dakwah dengan hikmah, nasehat yang baik.

Unidha
© 2020 STAI Darul Kamal NW Kembang Kerang NTB Follow STAI Darul Kamal NW : Facebook Twitter Linked Youtube

A PHP Error was encountered

Severity: Core Warning

Message: PHP Startup: Unable to load dynamic library '/opt/cpanel/ea-php71/root/usr/lib64/php/modules/imagick.so' - libMagickWand.so.5: cannot open shared object file: No such file or directory

Filename: Unknown

Line Number: 0

Backtrace: