Pencarian
Banner
Sinta Risteke-Jurnal
Login Member
Username:
Password :
Statistik

Total Hits : 31429
Pengunjung : 8006
Hari ini : 19
Hits hari ini : 53
Member Online : 18
IP : 34.204.203.142
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

alanrm82    
Agenda
18 November 2019
M
S
S
R
K
J
S
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7

Sejarah masuknya Islam di Lombok

Tanggal : 06/01/2019, 04:33:32, dibaca 173 kali.

Oleh : Muharir
Secara teologis pola keber-agama-an masyarakat Sasak kuno masih berpegang kuat  pada tradisi animisme, dinamisme sebagai agama  asli orang sasak tempo dulu.  Setelah Majapahit dan Bali melakukan ekspansi teologis ke gumi Sasak, maka sejak itulah di duga mulai terjadinya  penetrasi Agama Hindu,  terbukanya jalur transportasi laut, memungkinkan terjadinya intraksi sosial keagamaan semakin terbuka dengan daerah-daerah lain di Nusantara, hubungan dengan  berbagai daerah termasuk Timur Tengah membuka peluang bagi masyarakat Sasak untuk melaksanakan Ibdah Haji dan menuntut ilmu di Harmain, jalinan relasi intlektual antara Harmain dan Lombok,  di kemudian hari  melahirkan para tuan guru  yang pada masa selanjutnya  akan melakukan gerakan penyebaran Islam di Lombok untuk  menggeser keyakinan masyarakat Sasak  dari agama Hindu-Budha menjadi Islam.


Pada perkembangan selanjutnya Islam telah menjadi Identitas etnis Sasak, ketika kita berbicara Sasak Culture maka kita akan membahas masyarakat Sasak Islam dengan berbagai  unsur-unsur budaya yang melekat pada Identitasnya. Pelabelan Lombok sebagai pulau seribu Masjid telah menempatkan komunitas Sasak sebagai masyarakat yang taat dalam menjalankan ritual keagamaan  secara Islami.  Keterbatasan data, seringkali menjadi kendala yang dihadapi oleh penulis, untuk melacak jejak-Jejak  awal masuknya agama Hindu atau pun  Islam ke tanah Lombok. Keterbatasan tersebut telah menyebabkan terjadinya perbedaan persepsi dalam menafsirkan fakta sejarah, sehingga hasil pembacaan  tersebut masih bersifat paraduga atau perkiraan yang tingkat kebenarannya seringkali menjadi debatable.


Melacak asal muasal masuknya agama Hindu-Budha ke tanah Lombok memang agak sulit, Babad Lombok  menceritakan penyebaran Agama Hindu-sinkritis ke Bumi Sasak dilakukan  oleh pendeta Gurendah  ketika Majapahit baru berdiri, peristiwa ini terjadi  sekitar tahun 1293.  Maka sejak saat itu diduga terjadi proses Hinduinisasi di bumi Sasak. Kedatangan Hindu-Budha ke Lombok telah melahirkan akulturasi antara tradisi Hindu-Budha dengan budaya Sasak, sehingga melahirkan  corak budaya, dan model keyakinan yang sinkritis pada masyarakat Lombok.  


Berkembangnya transportasi dan pembukaan jalur pelayaran Labuhan Haji di Lombok Timur, Pelabuhan Ampanan di Lombok Barat dan pelabuhan Carik di Lombok Utara, diperkirakan sekitar abad 15-16 dan pelabuhan ini menjadi jalur utama pelayaran, sehingga sangat memungkinkan terbentuknya relasi antara masyarakat Sasak dengan dunia luar termasuk Majapahit-Jawa.    


Menjelang abad ke 14 diperkirakan jalinan hubungan antara  Lombok dan Jawa (Majapahit) mulai dilakukan, dalam buku Negarakartagama (1365) yang ditulis oleh Mpu Prapanca, terminologi Sasak  disebut dengan Istilah Lombok Mirah dan Sasak Adi, penyebutan nama-nama Lombok dan Sasak dalam kitab Negarakartagama menunjukan telah terjalin hubungan diantara keduanya. Fakta lain menunjukkan  hubungan antara Sasak dengan Majapahit,  di dalam tulisan Asnawi yang mengutif hasil riset R Gorirs  membuktikan, bahwa  terdapat bukti lain yang menunjukkan hubungan antara Lombok dengan Majapahit di Jawa, dalam penelitian R Gorris: Antekningen Over Cost of Lombok menjelaskan bahwa penduduk yang mendiami lembah sembalun yang  di yakini sebagai ketuturunan Hindu-Jawa dan disamping itu juga, di Bayan dan  Sembalun terdapat kampung tua yang menjadi tempat peristirahatan  dan ditemukan keturunan Majapahait. Hubungan yang sudah terjalin antara Lombok dengan Majapahit diduga kuat sebagai awal mula penyebaran Agama Hindu-Budha oleh para Zending yang berasal dari Majapahit.


Kedatangan pasukan Majapahit ke Lombok tidak hanya membawa misi konsolidasi politik dan ekspansi wilyah kekuasaan, akan tetapi lebih dari itu untuk melakukan penyebaran agama baru pada masyarakat Lombok yaitu agama Hindu. Berkembangnya agama  Hindu-Budha di Lombok ditopang oleh  kekuasaan kerajaan Hindu-Budha pada waktu itu, Kerajaan Selaparang  kuno,  dan kerajaan Mataram, Kerajaan Pajang,Kerajaan Pagesangan dan Kerajaan Pengsong. Di samping itu juga  penguatan relasi hirarki tradisional antara rakyat dengan penguasa pada waktu itu memberikan keuntungan terhadap peningkatan jumlah penganut Hindu di bumi Sasak. Perkembangan agama –agama pada masyarakat Sasak sedikit banyak ditopang oleh   agama penguasa yang sedang  berkuasa pada waktu itu.


Proses Islamisasi di Lombok diperkirakan terjadi sekitar pertengahan abad ke 16, di dalam naskah klasik Babad Lombokmenjelaskan, jalur penyebaran Islam di mulai dari Jawa, kemudian ke Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara. Keruntuhan  Majapahit sebagai akibat dari  konflik Internal,  perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh Grindrawardani,  dan menguatnya kerajaan Islam (Demak) yang dipimpin oleh sunan Giri, telah merubah peta perdagangan di Nusantara.  Keruntuhan  Majapahit telah memberikan ruang yang cukup luas bagi pedangang Muslim untuk melakukan ekspansi  perdagangan ke berbagai penjuru Nusantara termasuk Lombok. Terbuka jalur –jalur perdagangan ke berbagai daerah di Nusantara telah membuka akses yang lebih luas bagi para pedagang muslim untuk membuka hubungan dagang dengan penduduk seluruh lapisan masyarakat, para pedagang muslim, disamping menjual barang dagangan juga melakukan gerakan dakwah disetiap daerah yang di singgahi. 


Proses Islamisasi  di Lombok sendiri dilakukan oleh Sunan Prapen atas perintah Sunan Giri. Pelayaran Sunan Prapen dari jawa ke Lombok berlabuh di Salut Lombok Timur, dan  disambut oleh Prabu Rangke Sari.  Kedatangan Sunan Prapen diperkirakan pada tahun  1545. Proses penyebaran Islam yang dilakukan oleh Sunan Prapen dimulai  dari salut Lombok Timur  kemudian dilanjutkan ke Labuhan Lombok dan daerah daerah lainnya.  


Dalam proses Islamisasi di Lombok,  strategi yang digunakan yakni mengislamkan terlebih dahulu para elit Kerajaan atau raja,  dalam kondisi kehidupan masyarakat yang masih feodal, budaya patron  terhadap tokoh atau pimpinan sangat kuat, ketika raja atau penguasa telah di-Islamkan maka rakyatnya akan ikut dengan pemimpinnya. Proses Islamisasi Lombok yang dilakukan Sunan Prapen, dimulai dari Salut Lombok Timur, kemudian dilanjutkan dengan mengislamkan Raja-raja disekitar  Lombok yang berada dibawah kekuasaan kerajaan Selaparang. Setelah Sunan Prapen berhasil meng-islamkan beberapa daerah di Lombok  dan merasa yakin dengan Iman -Islam masyarakat Lombok. Sunan Prapen berangkat ke Sumbawa  untuk Islamisai di daerah Sumbawa, Seperti Tambora, Taliwang Seran dan Bima.


Ketika  Sunan Prapen meninggalkan Sasak, sebagian dari masyarakat Sasak kembali ke menganut keyakinan semula yaitu animisme dan Hindu Budha. Setelah Sunan Prapen Selesai mengislamkan Sumbawa dan Bima, dia kembali ke Sasak untuk mengislamkan kembali masyarakat Sasak, dalam usaha ini Sunan Prapen dibantu oleh beberapa bangsawan Sasak seperti Raden Sambelia dan raden Salut, sebagian masyarakat Sasak  menerima agama Islam, dan sebagian yang lain lari ke Lereng Rinjani untuk menghindari penaklukan agama Islam.


Terlepas dari perbedaan pandangan mengenai masuknya Islam ke Lombok, namun yang pasti bahwa Islam  datang dari Jawa, dan disebar oleh sunan Prapen mulai dari Salut- Lombok Timur kemudian menyebar ke daerah sekitar Lombok, proses Islamisasi yang semakin massif telah mengkis akar teologis Hindu-Budha singkritis pada masyaralat Sasak bagian Timur . Perkembangan selanjutnya dominasi Islam yang menguasai panggung teologis masyarakat Sasak telah mencitrakatan Sasak  sebagai kampung-halamannya oang Islam. Pasca keruntuhan Kerajaan Selaparang dan  Pejanggik kegiatan islamisasi di Lombok dilanjutkan oleh para tuan guru lokal, dengan corak kebersilaman fiqih- tasawuf.


Lombok  sebagai lintasan kebudayaan dan teologis yang ingklusif, persinggungan dengan berbagai corak keislaman tidak bisa terhindarkan,  terbukanya jaringan keislaman Lombok–Harmain telah membentuk corak keberagamaan masyarakat Sasak menjadi fiqih Sentries, dan  menggeser corak tasawuf yang sebelumnya berkembang pesat. Pergeseran  paradigma corak keberagamaan Masyarakat Sasak terus mengalami  dialektika, sehubungan dengan intensnya penetrasi Salafibisme Saudi ke Bumi Sasak. Dewasa ini perkembangan pola keberagamaan tekstual-furitan terus mengalami kemajuan, perebutan ruang ber-eksistensi untuk merebut dominasi terus diupayakan. Perebutan ruang dominasi seringkali dilakukan  dengan klaim-klaim kebenaran, sehingga seringkali melahirkan bully-bully psikologis yang berimplikasi pada perenggangan hubungan sosial kemasyarakatan.    


Kontestasi corak keagamaan pada masyarakat saat ini tidak bisa dihindari,  perebutan ruang eksistensi dan dominasi menjadi semangat utama  dari setiap keyakinan keagamaan,  karena pada dasarnya setiap agama ataupun mazhab apapun namanya memiliki ambisi untuk mengembangkan dan menancapkan dominasinya di tengah masyarakat, sebagai upaya untuk mempertahankan eksistensinya sekaligus identitasnya di tengah kehidupan agama yang semakin kering akan nilai-nilai solidaritas kemanusiaan akibat dari infiltrasi modernitas yang semakin massif. Walla hu’ a’lam bisswaf



Kembali ke Atas


Berita Lainnya :
 Silahkan Isi Komentar dari tulisan berita diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas