Pencarian
Banner
Sinta Risteke-Jurnal
Login Member
Username:
Password :
Statistik

Total Hits : 19503
Pengunjung : 5327
Hari ini : 5
Hits hari ini : 59
Member Online : 16
IP : 18.205.176.100
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

alanrm82    
Agenda
19 August 2019
M
S
S
R
K
J
S
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7

MENGAJI KEPADA TGH.M.RUSLAN

Tanggal : 02/09/2018, 15:54:57, dibaca 269 kali.
M. Hayadi : Mahasiswa STAI Darul Kamal NW
  1. Pendahuluan
      Tuan guru  atau ‘ulama muncul dari berbagai figur, ia bisa muncul dalam sosok mufassir, muhaddits, mutashawwif atau seorang faqih. Kepadanya umat bertanya tentang berbagai hal, menjadi nara sumber untuk mengetahui asbab al-nuzul, asbab al-wurud, nasikh mansukh dan cara beribadah yang benar sesuai tuntunan syari’ah. Dalam dunia tasawuf figur seorang guru atau tuan guru bisa dikenal  lewat kesungguhannya dalam beribadah dan kesederhanaannya dalam kehidupan.  Guru atau  ulama yang seperti ini menjadi rujukan ummat untuk peningkatan spiritual, karena dianggap memiliki bathin dan mata hati yang suci.
Secara generatif ulama merupakan pewaris dan pemegang tongkat estafet kepemimpinan keagamaan pasca pembawa risalah, Nabi Muhammad saw meninggal dunia.  Ulama secara definitif masuk dalam tiga kategori, yaitu ulama’, hukama’ dan kubara’.  Kategori pertama ulama’ yaitu orang yang mengetahui hukum-hukum Allah swt. Mereka inilah yang ahli dalam memutuskan hukum atau fatwa. Kategori kedua Hukama’, yaitu orang-orang yang ma’rifah Dzat Allah ‘Azza wa Jalla saja. Orang-orang seperti ini populer dengan sebutan al- ‘Arif Billah, ma’rifat kepada Allah dan selalu memuji keagungan sifat-sifat Allah swt. tujuannya adalah pengenalan secara intens kepada Allah serta berharap demi rahmat Tuhannya.Bergaul dan bersahabat dengan mereka membuat prilaku dan perangai menjadi terdidik, karena hati memancarkan sinarNur Ma’rifatillah ( cahaya mengenal rahasia-rahasia Allah ). Dan dari mereka membias sinar keagungan Allah swt. Dan kategori ketiga kubara’, yaitu orang-orang besar yang dianugerahi Allah dengan ilmu dan hikmah.
Bergaul dengan  Ahlillah orang-orang pilihan seperti ini akan melahirkan prilaku dan energi positif . Karena tingkat kemanfaatan yang begitu tinggi, lahir dari ketulusan hati yang dilakukan oleh ulama fillah. Ulama model begini tindakannya sesuai dengan ucapannya, dan semua aktifitasnya diawasi dan dipelihara Allah swt.  TGH.M. Ruslan Zain, seorang guru sekaligus ulama bertipe akhirat. Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ ulum al-Dien menjelaskan beberapa  indikasi yang termasuk ‘ulama akhirat, Menurut Imam al-Ghazali ada dua belas keriteria ‘ulama akhirat.[1] antara lain :
a.   Serius mencari ilmu yang bermanfaat untuk akhirat dan menghindari ilmu yang menimbulkan perbedaaan.
Ketika beliau Muqim di Makkah, TGH. M. Ruslan belajar ilmu-ilmu agama kepada beberapa ulama yang terkenal dengan al-Da’i Ilallah, ulama yang khalis tanpa mengharap sesuatu dari sesama makhluk-Nya, semata-mata Lillahi Ta’ala. Pada ulama- ulama model inilah belajar ilmu agama, belajar tentang haqiqah dan ma’rifat Allah ‘Azza wa Jalla. Sehingga membentuk pribadi yang matang dalam segala dan kondisi. TGH.M. Ruslan adalah figur ulama moderat, tidak mau terlibat dalam hal-hal yang mengundang perdebatan. Prinsip beliau keutuhan umat ini lebih utama dari pada membahas sesuatu yang bersifat khilafiyah terutama dalam masalah furu’iyah. Hal ini beliau contohkan tatkala terjadi perbedaan pendapat mengenai boleh tidaknya pemimpin wanita  ketika mu’tamar Nahdlatul Wathan  X di Praya Lombok Tengah, beliau  memegang prinsip persatuan lebih utama, daripada memperlebar jurang perbedaan.  Sikap ini merupakan buah dari didikan guru-gurunya di Tanah suci Mekkah utamanya al- ‘Allamah al-Syaikh Hasan Muhammad al-Masysyath ,al-Syaikh Isma’il Zain al- Yamani dan Al-Syaikh Abdullah al-Lahji. Ketika beliau    menuntut ilmu,  dilakoninya dengan  yakin, ikhlas dan istiqamah lillahi ta’ala. Pada awal 1990-an, muncul aliran yang menamakan diri dengan al-Sunnah, al-Salafiyah dan Wahhabiah[2]. Aliran ini menimbulkan pro dan kontra dikalangan mayarakat.  Namun demikian beliau tetap istiqamah melakukan rutinitas tanpa terusik dengan sesuatu debateble tadi. Secara realitas sosial aliran al-Sunnah ini telah membuat sesak nafas warga sekitar akibat ceramah maupun pengajian yang disajikan melalui loud speaker yang dengan terang-terangan secara frontal meyalahkan beberapa ritual keagamaan seperti, tahlil berjama’ah dan berjabat tangan usai sholat, ziarah maqam/ kubur  dengan tuduhan bid’ah, khurafat, syirik bahkan lebih radikal lagi menuduh kawan seimannya dengan tuduh kafir. Wal Iyadhubillah !.
Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah pernah mengatakan:
“ Barang siapa mencari ilmu, maka syurga mencarinya “
Mencari ilmu bermanfaat yaitu ilmu yang harus diketahui orang dewasa, menuntun mereka kejalan Allah swt, demi meraih syurga dan ridla Allah swt.
b.    Tidak mencari dunia dengan ilmu agamanya.
Ilmu itu harus diamalkan sesuai dengan kadar kemampuannya, kalimat ini sering disampaikan dalam beberapa majlis ta’lim yang diasuh TGH.M.Ruslan Zain. Ilmu adalah sarana untuk meningkatkan kualitas hidup di dunia maupun untuk tabungan akhirat. Ilmu agama khususnya memiliki peranan vital dalam kehidupan seseorang, sehingga membawa perubahan signifikan pada individu dan masyarakat, menjadi tauladan lingkungan, sosial kemasyarakatan. Orang yang alim dalam ilmu agama tidak menjadikan dunia sebagai sumber kesenangan dan sumber segalanya. Bahkan dalam pandangan sufi, dunia  dan kesenangan merupakan sumber kemaksiatan dan dosa.  Bagi TGH.M. Ruslan Orang yang menurutkan hawa nafsunya dan tenggelam dalam kesenangan duniawi, selamanya tidak akan dapat menikmati cahaya Allah.
c.    Hidup sederhana dalam hal makan, minum, berpakaian dan sebagainya.
TGH. M.Ruslan terkenal dengan kesederhanaannya. Penampilan dan pembawaanya layaknya seperti masyarakat kebanyakan, memakai kopiah, sarung dan baju jas mini atau baju koko,   satu lagi yang menjadi ciri khas beliau  kemanapun beliau pergi baik mengisi pengajian- pengajian di semua majlis taklim ataupun memenuhi hajat jema’ahnya berupa  acara pernikahan, khitanan,  maupun acara lainnya tanpa memandang status sosial yang punya hajat  memakai  beliau begitu  setia dengan sandal “ Lily “, jarang sekali beliau memakai sandal  bermerek  dan berbahan genuine leather.
Bagi orang yang tidak mengenal beliau, sekilas memang tidak seperti ulama’ atau  Tuan Guru di Lombok  pada umumnya yang mengenakan atribut ke-Tuan Guru-an, seperti berjubah, bersorban thaylasan disertai syal hijau, menenteng tasbih dan kemana- kemana dikawal oleh “ pengiring” setia.  Beliau tipe Tuan Guru “ jamak-jamak “,   dipasar menjinjing barang belanjaan, bahkan beliau pernah memikul karung sendirian tanpa minta bantuan santrinya,  menyetir mobil dan terkadang mengelap mobil sendirian tanpa mengandalkan orang lain serta apabila  pulang dari majlis ta’lim atau acara lainnya jika ada “berkat”  khusus untuk beliau, tidak segan dan canggung beliau angkat dan jinjing sendiri.
d.    Perbuatannya tidak menyalahi ucapannya.
e.    Menghindari pergaulan  atau terlalu dengan  dengan penguasa.
Imam al-Ghazali dalam kitabnya “ Ayuhal Walad” mengatakan bergaul dekat dengan penguasa adalah kunci segala kejahatan.  Prinsip inilah yang selalu dipegang erat TGH.M Ruslan, beliau senantiasa menjaga jarak dengan penguasa.  Pada tahun 1999, Gubernur  NTB saat itu, Harun al- Rasyid pernah menyatakan rasa simpatinya kepada TGH.M.Ruslan, disebabkan pengajian Tuan Guru yang dianggap tepat dengan program pemerintah NTB waktu itu yaitu GEMA PRIMA ( Gerakan Merubah  Prilaku Masyarakat ).  Gerakan ini bertujuan merubah prilaku masyarakat NTB dari konsumtif menjadi produktif. Peningkatan SDM bidang perekonomian dan dibidang kesehatan. Dalam rangka mendukung program ini Gubernur NTB telah mengirimkan 40 orang putra – putri terbaik NTB untuk masuk ke Fakultas Kedokteran dan  diberbagai Perguruan Tinggi ternama Nasional,
f.      Tidak tergesa-gesa dalam memberi fatwa
g.    Perhatiannya pada ilmu olah batin sangat serius, dan berusaha mengungkapnya dengan mujahadah dan muraqabah
h.    Bersungguh-sungguh dalam memantapkan keyakinannya
i.      Tawaddu’ , suka berdiam diri dan selalu bersedih hati
j.      Mayoritas bahasan ilmunya berkaitan dengan amal-amal shalihat  dan amal-amal yang mafsadat.
k.    Berpedoman pada ilmu yang berdasarkan penglihatan batin melalui hati yang bersih.
Aktivitas TGH. M. Ruslan sehari-hari dalam berdakwah dan mengajar mencermin sikap ‘ulama zhahiran wa bathinan berjuang di jalan Allah li’ilai kalimatillah ‘Izzul Islam wal Muslimin, tidak memandang strata sosial komunitas tertentu dan tanpa batas usia, semua dikunjungi dan diajari selama ada kesempatan dan tentunya  bi idznillah. Penekanan dakwah dan perjuangan selalu bertujuan untuk vitalitas keummatan dalam upaya meraih kebahagiaan dunia dan akhirat kelak.
  1. Biografi Singkat TGH.M.Ruslan Zain
TGH.M.Ruslan lahir di Desa Anjani Lombok Timur, desa asal ibunda beliau pada tanggal 3 Maret 1953. Beberapa hari setelah kelahirannya diboyong orangtuanya ke Desa Kembang Kerang Lombok Timur, dan  menetap sampai sekarang. Lahir dengan nama Muhammad Ruslan. Muhammad Ruslan merupakan putra pertama dari H. Zainuddin dan Hajjah Fatmah. Beliau  putra  satu-satunya dari lima  bersaudara kandung yaitu ; TGH.M.Ruslan Zain,  Hajjah Nur ‘Azizah, Hajjah Khairiyah, Hajjah Selamah, S.Pd, Hajjah Nur Hidayah, S.Ag dan Hajjah Rukaiyah, S.Pd.
Sejak kecil beliau memiliki dan dikenal sangat jujur dan cerdas, sehingga tidak mengherankan kalau ayah bunda beliau memberi atensi khusus dan menumpahkan kecintaan serta kasih sayang yang begitu besar kepada putra semata wayang ini.  Ayahnya seorang saudagar dan petani. Ia juga dikenal sebagai tokoh agama dan keturunan terpandang dalam masyarakat yaitu keturunan H. Umar dan H. Kamaluddin  yang pernah menjabat sebagai penghulu di Desa  Kembang Kerang. Pada mulanya Muhammad Ruslan belajar agama ( al-Qur’an pada Ust.H. Mu’min ) di kampung halamannya disamping memperoleh pendidikan formal di Sekolah Rakyat ( sekarang SDN 1 Kembang Kerang ) selesai tahun 1965.  Hasratnya yang begitu besar  terhadap ilmu agama  memotivasinya untuk belajar dan mengaji ke Pancor lombok Timur.
Pancor saat itu merupakan pusat pendidikan agama Islam di Indonesia kawasan Timur karena memiliki Madrasah dan lembaga sebagai tempat menggembleng kader-kader pejuang Islam. Pancor terkenal sebagai tempat lahirnya organisasi terbesar di Nusa Tenggara Barat  yaitu Nahdlatul Wathan yang didirikan oleh al-MaghfurulahTGKH.Muhammad Zainuddin Abdul Majid. Disinilah Ruslan remaja mempelajari semua disiplin ilmu keagamaan  seperti Tafsir, Hadits, Mantiq, Balaghah, Nahwu, Sharf, Fiqh dan berbagai disiplin ilmu umum lainnya.  Pendidikan di Pancor inilah yang membawa Ruslan remaja memperoleh Futuh al-Awwal dari gurunya al-MaghfurulahTGKHM. Zainuddin ‘Abdul Majid. Dari guru besar inilah M. Ruslan remaja disarankan untuk belajar ke Makkah al- Mukarramah usai menamatkan studinya di  Madrasah Mu’allimin 6 tahun 1971, tepatnya di Madrasah al-Shawlatiyyah. Madrasah tertua di tanah suci Makkah.
Di Madrasah al-Shawlatiyah inilah, spirit mengajinya berkobar melahap berbagai disiplin ilmu keislaman. Selama 5 tahun mendalami dan menyelami ilmu keislaman inilah TGH.M. Ruslan tumbuh menjadi remaja yang gandrung pada kajian keislaman sehingga hasrat ini terbaca oleh orang tuanya. Karena didukung kondisi ekonomi memadai, tingkat kecerdasan yang tinggi, ketekunan dalam belajar, garis keturunan terpandang, kasing sayang serta keikhlasan kedua orang tua dan do’a restu dari guru-gurunya. Beliau memperoleh prestasi yang sangat memuaskan sehingga beliau berhasil dengan gemilang menyelasaikan studi di Madrasah al-Shawlatiyah.  Sang walid  H.M.Zainuddin menginginkan putra satu-satunya ini melanjutkan studinya ke Universitas al-Azhar  Kairo Mesir dengan memohon izin dan restu dari guru besar beliau al-‘Allamah al-Syaikh Isma’il ‘ Utsman Zain al-Yamani. Guru sekaligus pembimbing yang membentuk karakter ke’ulamaan beliau, dari Syaikh Isma’il inilah TGH.M.Ruslan memperoleh futuh al-Akbar. Tetapi gurunya  ini kurang setuju, sehingga beliau  disarankan pulang ke Indonesia mengabdi untuk ummat dikampung halamannya  Kembang Kerang pada tahun 1976.
Pada waktu belajar di Madrasah al-Shawlatiyah, beliau banyak mendapat perhatian dari guru-gurunya. Dengan pribadi yang penuh dengan kesederhanaan dan keikhlasannya dalam menuntut ilmu, beliau sangat dicintai dan dipuji oleh guru-gurunya. Diantara guru-gurunya di Madrasah al-Shawlatiyah yang mencintai dan memuji beliau adalah al-‘Allamah al-Syaikh ‘Abdullah al-Lahji, seorang ulamamutaffannin di berbagai bidang ilmu keislaman. Maulana Syaikh ini berkata kepada muridnya yang muda ini dengan ekspresi :
“ Aku mencintaimu, namun aku tidak mencintai tulisanmu
Pernyataan gurunya memang sebuah realitas, TGH.M. Ruslan sampai saat ini, jika beliau menulis baik menggunakan hurup arab maupun aksara latin, tampaknya biasa-biasa saja dan jauh dari kaidah-kaidah seni kaligrafi. Maksudnya tulisan beliau bukan tidak bisa dibaca, namun kurang seni menurut seniman kaligrafi. Isyarat gurunnya diatas maksudnya adalah kepribadian beliau jauh lebih baik daripada goresan tangannya.
  1. Guru-Gurunya
            Ilmu yang diperoleh TGH.M.Ruslan di Madrasah al-Shawlatiyah Makkah al-Mukarramah adalah hasil bimbingan dan arahan dari para  masyaikh baik yang di Madarasah al-Shawlatiyah sendiri maupun dari pengajian-pengajian  majlis-majlis ilmu yang diikuti di Masjidil Haram. Diantara masyaikh- masyaikh tersebut antara lain :
  1. Madrasah al-Shawlatiyah
·         Abul Barakat wan nafahat al-‘Allamah Asy-Syaikh Isma’il Zain al-Yamani
·         Al-‘Almul ‘Allamah al- Muhaddits al-Musnidud Dunya Asy-Syaikh Muhammad Yasin al- Fadany
·         Al-‘Alimul Rabbani al- Faqih al- Muhaddits  Asy-Syaikh ‘Abdullah al-Lahji al-Hadhrami
·         Al-‘Allamah Asy-Syaikh ‘Abdul Kariem al-Hindi Pakistan
·          Al-‘Alimul ‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad ‘Iwadh al-Hadhrami
·         Al-Allamah Asy-Syaikh ‘Adnan Hikmatullah al-‘Anfanani
·         Al-‘Alimul ‘Allamah Asy-Syaikh al-Sayyid Muhammad al- ‘Aththas
·         Al-‘Allamah Asy-Syaikh Husain al- Hindi  Bangladesh
·         Al-‘Allamah Asy-Syaikh Muhammad Makki al-Hiyadhi
b.    Masjidil Haram
·      Abul Barakat Wan Nafahat al- Murabbil Kabir al-‘Allamah al-Muhaddits al-Faqih Asy-Syaikh Hasan Muhammad  al- Masysyath
·      Al-‘Alimul ‘Allamah al- Muhaddits Prof. Dr. Asy-Syaikh al-Sayyid Muhammad ‘Alawi al- Makki al- Hasani
·      Al-‘Allamah Asy-Syaikh al-Sayyid Hamid al-Kaff
·      Al-‘Allamah Asy-Syaikh ‘Abdul Karim al- Banjari .
Karena keikhlasan dan bukti kecintaannya kepada Madrasah al- Shawlatiyah, guru-gurunya dan masyarakatnya, beliau menghadirkan Mudir Madrasah al-Shawlatiyah yaitu, al-‘Allamah Asy-Syaikh Majid Sa’id Rahmatullah  dan Asy-Syaikh Ahmad Said Rahmatullah  pada tahun 1979.  Beberapa tahun kemudian beliau di kunjungi  gurunya Al-‘Alimul ‘Allamah Asy-Syaikh Isma’il al-Yamani tahun 1983. Dan pada tahun 1984 Asy-Syaikh Ismail berkunjung kembali menyambangi dan mendo’akan muridnya dan pencintanya di Kembang Kerang. Pada kesempatannya ini Maulana Syaikh Isma’il melakukan peletakkan batu pertama pembangunan Madrasah Tsanawiyah  NW Kembang Kerang dan diikuti pula Maulana Syaikh TGKH.M. Zainuddin ‘Abdul Majid berkenan meletakkan batu pertama dan mendo’akan semoga Madrasah Tsanawiyah ini makmur sampai hari kiamat. Sebelum  melakukan kunjungan kedua Maulana Syaikh Ismail memberikan bantuan kepada  TGH. M. Ruslan  sebesar $9.00, Bantuan tersebut digunakan untuk pembebasan lahan untuk lokasi pembangunan Madrasah Tsanawiyah NW tersebut.
      Pada tahun 2004. Mudir Madrasah al- Shawlatiyah Asy-Syaikh  Majid Salim Rahmatullah, kembali berziarah  dan bershilaturrahmi ke Kembang Kerang. Tak di nyana 2011 mudir  Madrasah al-Shawlatiyah tiba-tiba datang sekedar berdo’a  kemudian pergi,  pada malam yang sama putra Maulana Syaikh Ismail al- Yamani yaitu al-‘Allamah Dr. Asy-Syaikh Muhammad Isma’il al-Yamani datang mengunjungi  dan bershilaturrahmi kepada saudaranya TGH.M.Ruslan Zain dan keluarga besar Darul Kamal NW kembang Kerang. Tujuan  kunjungan dan shilaturrahmi para  ulama’ tersebut agar  masyarakat setempat memperoleh barokah dan siraman do’a ulama- ulama besar Makkah al- Mukarram.
  1. Pengabdian dan Kepemimpinannya
                  Sejak  kembali dari Makkah al- Mukarramah TGH.M Ruslan langsung terjun berkifrah  mengabdi dan membimbing masyarakat dengan membuka pengajian dan majlis ta’lim di rumah kediaman beliau maupun di masjid – masjid  Kembang Kerang dan desa-desa tetangga.  Disamping mengisi majlis-majlis ta’lim, beliau aktif sebagai sebagai guru madrasah di Kembang Kerang, Wanasaba dan  Pancor. Juga aktif sebagai salah seorang masyaikh  Ma’had Darul Qur’an wal-Hadits al- Majidiyah Asy-Syafi’iyah Pancor, sebuah institusi keagamaan yang banyak melahirkan para Tuan Guru dan tokoh-tokoh kenamaan di Lombok khususnya dan di Indonesia umumnya. Alumni Ma’had  ini banyak mendirikan pondok-pondok pesantren dan madrasah.
         Sebagai guru masyarakat, TGH.M. Ruslan disegani dan diteladani oleh masyarakat karena keikhlasannya dalam berjuang yang  didukung dengan ilmu yang luas dan mendalam.  Demikian juga kharisma beliau sebagai Tuan Guru dan tauladan masyarakat begitu besar. Beliau adalah tokoh panutan yang perlu diikuti jejak langkahnya, karena sifat-sifat beliau selalu mencerminkan jejak langkah guru-gurunya. Kiat beliau dalam melakukan pendekatan menggunakan metode ta’lim dan tarbiyah,mendidik dan memberi contoh langsung.  Pribadi beliau mencerminkan pribaditawassut, yakni bersikap apa adanya dan biasa-biasa saja,  bahkan beliau  tidak pernah bersikap seperti orang besar kebanyakan yang ingin dihormati dan disegani. Beliau selalu bertindak  penuh perhitungan dan pertimbangan, segala sesuatu  diputuskan jalan musyawwarah dan mufakat, menimbang mashlahah dan mafsadat, manfaat dan mudlarat, kemudian baru beliau menempuh upaya terakhir dengan melakukan sholat istikharah sampai memperoleh keputusan yang meyakinkan.
       Dalam mengemban, melaksanakan misi dan  tugas organisasi NW. Organisasi yang didirikan gurunya al- Maghfurulah Maulana Syaikh TGKH.M.Zainuddin ‘Abdul Majid, beliau laksanakan dengan tekun, jujur, ikhlas, syaja’ah, dan penuh tanggung jawab. Beliau  juga memiliki jiwa rela berkorban untuk kepentingan umat. Sebagai pemimpin dan panutan masyarakat, beliau selalu tampil dengan sikap istiqamah terhadap masalah-masalah yang dihadapi. Ini semua merupakan  hasil tempaan  guru-gurunya ketika belajar di madrasah al-Shawlatiyah dan di Masjidil Haram. Setiap perintah atau petuah gurunya beliau  laksanakan dengan penuh tanggung jawab. Sebagai pemimpin yang tangguh, amanah, jujur dan ikhlas. Loyalitas, integritas dan kapasitas beliau di lingkungan masyarakat teruji. Beliau pernah menjabat ketua Panitia Pembangunan Masjid Nurul Wathan Kembang Kerang(1987), Ketua panitia pembangunan gedung baru Madrasah Mu’allimin NW Pancor ( 1990-1992), dan ketua panitia pembangunan Gedung baru  Ma’had Darul Qur’an wal Hadits ( 1993-1994).  Pada tahun 1982 – 1995 beliau di percaya sebagai Wakil ‘Amid Ma’had dan pada tahun 1996 beliau di pilih langsung oleh al-Maghfurulah Maulana Syaikh TGKH.M. Zainuddin sebagai ‘Amid ( dekan )  Ma’had Darul Qur’an wal Hadits ( 1996- Sekarang), penunjukan ini merupakan SK lisan di samping SK tulisan dari pendiri NW dan pendiri Ma’had  Darul Qur’an wal Hadits. Demikian halnya dengan kepemimpinan beliau dalam mengasuh dan membina Pondok Pesantren Darul Kamal NW Kembang Kerang.
TGH.M.Ruslan seorang mu’allim, murabbi dan muballigh sufistik, ini terlihat dari aktivitas beliau yang sehari-harinya sebagai pengajar, pendidik dan mengisi beberapa majlis ta’lim. Beliau  kurang tertarik dengan kehidupan duniawi yang terkesan materialis dan hedonis, apalagi yang berbau politik praktis. Sikap inilah yang menjadi ciri khas beliau, tawaddu’ dan bersahaja.
            Aktivitas TGH. M. Ruslan sehari-hari dalam berdakwah dan mengajar mencermin sikap ‘ulama zhahiran wa bathinan berjuang di jalan Allah li’ilai kalimatillah ‘Izzul Islam wal Muslimin, tidak memandang strata sosial komunitas tertentu dan tanpa batas usia, semua dikunjungi dan diajari selama ada kesempatan dan tentunya  bi idznillah. Penekanan dakwah dan perjuangan selalu bertujuan untuk vitalitas keummatan dalam upaya meraih kebahagiaan dunia dan akhirat kelak.  Sebagian profesi dan pengalaman beliau sebagai berikut :
@ Staf masyaikh Ma’had Darul Qur’an wal Hadits (MDQH) al-Majidiyah As-Syafi’iyyah Nahdlatul Wathan Pancor 1977-sampai 1998
@ Mendirikan MTs NW 01 Kembang Kerang 1984
@ Ketua pembangunan MTs NW 01 Kembang Kerang 1984
@ Merintis  pembentukan Yayasan Pondok Pesanteren Darul Kamal NW 1985
@ Ketua Umum Yayasan Pondok Pesanteren Darul Kamal NW  1985-2007
@ Mendirikan Madrasah Aliyah NW Kembang Kerang 1987
@ Wakil ‘Amid/Dekan Ma’had DQH NW Pancor  Lombok Timur 1982-1995
@ ‘Amid/ Dekan Ma’had DQH NW  Lombok Timur 1996- sekarang
@ Penyuluh Agama Islam Kabupaten Lombok Timur 1990-sekarang
@ Mendirikan Madrasah Ibtidaiyah NW 02  Kembang Kerang di Dasan Waldan 1992
@ A’wan Dewan Mustasyar PB NW 1992- Sekarang
@ Mendirikan MTs.NW 02 Kembang Kerang 1998
@ Mendirikan  Poskestren Darul Kamal 1997
@ Wakil Ro’is ‘Am Dewan Mustasyar PB NW 1998-Sekarang
@ Anggota Majlis Ulama Indonesia Propinsi NTB 2000- sekarang
@ Mendirikan Panti Asuhan An-Nur NW Kembang Kerang 2000
@  Mendirikan Diniyah Awwaliyah al-Mustaqiem NW Kedatuk 2002
@ Mendirikan Ma’had al-Salafi (wajar dikdas 9 tahun ) dan paket C 2002
@ Mendirikan Sekolah Tinggi Agama Islam  ( STAI ) Darul Kamal NW Kembang Kerang
TGH. M. Ruslan Zain adalah seorang ulama’ yang karismatik namun tetap pada penampilan beliau yang sederhana dan sangat bermasyarakat, bahkan beliau pernah mengatakan dalam bahasa guyon beliau “daka ku jari tuan guru, ku to endah macul mara persok”, kalimat ini menjadikan sebuah inspirasi besar bagi kita bahwa “jangan sampai ketinggian ilmu kita membuat kita sombong dan hanya mau diatas langit, melainkan ilmu itulah yang membuat kita selalu tawaddu’ dan bermasyarakat secara harmonis dengan siapapun dan dari kalangan apapun”.   
1.      Mohon Do’a agar selalu fit and fresh
Ada  yang menarik pada waktu pelaksanan haji 2011, yaitu seorang jema’ah putri, minta didoakan agar senantiasa tampil sehat dan prima selama pelaksanaan haji dan umrah.  Jema’ah yang dimaksud bernama Muslihatun
2.      Uthlubu Hawa-ijakum bilkitman
Awal pendirian perguruan tinggi, aslinya dulu dalam propasal tertera Sekolah  Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT). Rupanya Allah berkehendak lain Sekolah tinggi tersebut tidak jadi terealisasisi diakibatkan beberapa faktor, antara lain faktor yang terberat adalah adanya pihak-pihak yang selalu mengintip, menelikung dan menghambat  keluarnya izin operasional perguruan dimaksud.
3.      Karomah Tidur
4.      Menjadi sopir pribadi
Sungguh tepat ungkapan asing mengatakan Expreience is the best teacher, pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman ini membawa kesan mendalam bagi TGH.M. Ruslan. Pada kegiatan mu’tamar  Nahdlatul Wathan IX Praya, mu’tamar ini merupakan mu’tamar pertama yang dilaksanakan pasca wafatnya pendiri dan guru besar organisasi terbesar di NTB al-Maghfurulah TGKHM. Zainudin Abdul Majid. Dalam mu’tamar kali ini terdapat dua kubu yang memiliki kepentingan berbeda. Sejak palu sidang diketuk, suara dan nyanyian dari mu’tamirin riuh menabuh, saling sindir dan sanjungan mengalir dimeja dan kursi peserta. Akhirnya pro-kontrapun berlabuh digedung KONI Praya tempat mu’tamar berlangsung.
Rupanya kubu Ummi Raihanun, yang didukung oleh mayoritas peserta mu’tamar berada diatas awang-awang, mengalahkan kubu H.Ma’shum Ahmad yang memperoleh suara minoritas mu’tamirin. Rupanya kubu minoritas tidak puas dengan dengungan  mu’tamar  ini dan melakukan ancang-ancang  untuk melakukan sabotase hasil mu’tamar, dengan mengadakan mu’tamar luar biasa, kelak kubu ini mengadakan mu’tamar NW reformasi.  Dari palu mu’tamar suara samar terdengar, Ummi harus diamankan karena calon top leader NW . Sementara kondisi di Pancor pasca wafatnya Maulana Syekh tidak menentu dan bahkan dikategorikan kurang kondusif untuk para santri dan masyaikh, lebih-lebih saat mu’tamar terasa  begitu mencekam. Butuh nyali khusus memang apabila menghadapi kondisi seperti ini.
Walaupun dengan kondisi demikian TGH.M.Ruslan dengan penuh istiqamah tetap menunjukkan loyalitasnya terhadap perjuangan dan keberlangsungan organisasi NW. Tanpa mengenal kondisi yang tidak kondosif, beliau tampil sebagai body guarddan sopir pribadi Ummi Raehanun ZAM. Dan secara kebetulan beliau satu-satunya Masyaikh Ma’had disamping merangkap ‘Amid Ma’had yang memiliki mobil pribadi serta dianggap sebagai figur mu’taman  yang bertanggung jawab terhadap keselamatan calon pemimpin NW ke depan ketika itu.
Profesi itupun berlanjut pasca Mu’tamar Praya, pada saat sosialisai hasil Mu’tamar dan sosialisai Program kerja Organisasi ke daerah-daerah dan cabang, TGH.M.Ruslan selalu tampil sebagai avant-garde, da’i, penceramah sekaligus sopir pribadi  yang senatiasa mendampingi dan mengantar para Masyaikh, dan Ketua Umum ke lokasi pengajian. Pasca Mu’tamar ini, TGH. M.Ruslan secara otomatis banyak menghabiskan dan menyita waktu untuk keluarga dan  Majlis- majlis Ta’lim yang diasuhnya saat itu termasuk pondok pesantren yang dibinanya. Sehingga dikalangan keluarga, Asatidz dan santri saking bangga dan kagumnya dengan profesi baru Tuan Guru-nya  dengan nada seloroh mengatakan: Wah...,  Bapak Tuan Guru kita sekarang mengganti posisi departemen yang pernah ditangani Pak Habibie yaitu Departemen BP4T ( Badan Pusat Pengkajian Pengembangan Penelitian & Teknologi), menjadi BP4T ( Bapak Pergi Pagi Pulang Petang Penghasilan Tetap ).
Walaupun demikian beliau tetap enjoy dengan profesi barunya. Dengan satu alasan mengabdi pada gurunya al-Maghfurulah Maulana Syaikh TGH.M. Zainuddin Abdul Majid dan melanjutkan perjuangan organisasi yang didirikan gurunya Nahdlatul Wathan. Pengalaman diatas menjadikan beliau sebagai pribadi mandiri, kuat, tegas, tangguh dan tanggap. Sejak itu beliau kemana- kemana untuk mengisi berbagai aktivitas pengajian, muamalah dan sosial dalam   segala situasi kondisi  dan medan  selama kondisi beliau fit dan fresh sangat jarang bahkan tidak  menggunakan sopir pribadi.
5.      Sebuah Kemelut Madrasah NW Perian
Ba’da Maghrib di Ponpes Raudlatut Thalibin NW  Paok Motong, kearah utara   sunyi senyap, bayangan maulana syekh- menuntun mobil, TGH.M.Hilmi Najmuddin, TGH.M.L.Anas Hasyri, TGH.M. Abdul Barri, H. M. Shabir, S.Ag  dan M.Shabrin PAMSWAKARSA  Orange- lengkap dengan senjata, pedang, tombak, tali dan cambuk, perintah kepada H.Shabir , ngomeh, diantar sampai di tempat ( Ust.    
6.      Free payment  dua tahun
7.      Dari masyarakat primitif menjadi masyarakat kreatif
8.      Quraisy Kembang Kerang
Dalam al-Qur’an surat Quraisy dijelaskan bahwa orang-orang Quraisy Mekkah melakukan rihlah  dalam setahun dua kali, yaitu  ketika musim panas ke arah utara menuju Syam dan ketika musim dingin menuju ke selatan menuju Yaman. Tradisi ini menjadi tradisi turun temurun pada generasi Quraisy berikutnya. Orang-orang Quraisy dan orang Arab pada umumnya terkenal sebagai pedagang ulung. Sampai  saat ini kulturrihlah kaum Smith ini sudah menyebar ke seantero dunia, terbukti dengan banyaknya perkampungan  Arab di berbagai belahan dunia.
Rupanya tradisi Quraisy Arab ini berlaku juga di kalangan keluarga besar Darul Kamal  Kembang Kerang utamanya yang berprofesi sebagai pedagang.  Masyarakat Kembang Kerang terkenal dengan  komoditas utamanya yakni  Gula Gending. Gula Gending dikenal dikalangan komunitas Sasak dengan sebutan; gula janggeq, Gula Semet Meong, Gula Bleq Bengkok dan Alus Manis. Sedangkan diluar daerah seperti di Sulawesi, Sumatera, Batam, Sumbawa, Bima,  Kalimantan dan daerah lainnya gula gending ini terkenal dengan sebut Halus Manis dan Harum manis. Kembang Kerang adalah sentra dan pemegang hak patent tunggal dalam produksi gula gending.
Gula gending mengandung filosofi hidup yang memiliki nilai luhur. Filosofi ini merupakan falsafah hidup masyarakat Kembang Kerang, berjiwa gotong royong, bersatu padu, bertuturkata manis dan memiliki kekerabatan yang saling terikat satu sama lain. Ketika suasana gaduh, ribut dan  kacau, prinsip tetap jalan, dan ketika rizki ada, kepala tetap tunduk bersyukur atas Nikmat-Nya.  Dalam proses pembuatan gula gending itu sendiri, tidak bisa tuntas tanpa ada kebersamaan dan solodaritas. Satu hal yang unik bagi pedagang gula gending, ketika menjajakan dagangan biasanya Blek bengkok[3] ini ditabuh dengan irama dendang, tanpa suling dan gendang. Suaranya nyaring pembeli pun datang, maka ... pedagangpun senang.  Apabila    blek bengkok ini tidak ditabuh,  ini mengisyaratkan bahwa dagangan sudah laku terjual habis.
Para pedagang gula gending ini, mencontoh kebiasaan orang-orang Quraisy Arab dalam berdagang.  Orang Kembang Kerang melakukan rihlah dua kali  dalam setahun. Biasanya berangkat ke luar daerah pasca lebaran atau’Idul fitri, kembali lagi menjelang bulan mauilid, Rabi’ul awwal. Pasca Maulid berangkat lagi, dan mudik menjelang bulan Ramadlan. Sehingga kegiatan seperti ini, oleh TGH.M.Ruslan  memberi gelar kepada ‘ penggendong ‘ blek bengkok ini dengan sebutan  Quraisy Kembang Kerang. Dan usaha seperti adalah sesuatu yang positif mengingat dari hasil kegiatan ini masyarakat kembang Kerang menjadi masyarakat mandiri.   
Dalam kegiatan pengajian Malam Jum’at dan Pengajian pagi Senen, mayoritas jama’ah pengajian  berprofesi sebagai pedagang gula gending, TGH. M.Ruslan selalu berpesan agar jangan lupa beribadah kepada Allah swt, utamanya shalat lima waktu harus dilakukan tepat waktu dan kalau bisa dikasanakan secara berjama’ah. Pesan model ini singkat namun padat makna. Pesan ini memiliki efek yang besar bagi jama’ah gula gending, mereka memperoleh spirit dan motivasi.
Efek tersebut berimbas pada kondisi sosial dan komunal pelaku gula gending sendiri. Secara finansial pedagang gula gending income nya meningkat terbukti dengan perubahan gaya hidup dalam strata sosial. Mereka pulang pergi bukan dengan jalan kaki seperti tradisi awal, dengan menggunakan pakaian sarung dan sapuq atau songkok tani, namun mereke menggunakan pesawat terbang ( pergi diantar-pulang dijemput ) dan Bus Eksecutif berkelas. Dan yang paling membanggakan hasil Gula Gending ini digunakan menyetor ONH, berziarah ke Ka’bah dan Makam Rasulullah saw.
Secara komunal, strata sosial yang meningkat menopang kebutuhan ekonomi keluarga, bisa melanjutkan studi putra-putrinya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan memberikan sedikit kontribusi untuk institusi pendidikan, sosial dan lokasi ibadah utamanya di Kembang Kerang Daya, desa tradisi dan desa  Mandiri.
9.      Diantara dua NW
10.  Ancaman berbuah gedung
Pengajian shilaturrahmi  pendidikan yang digelar PBNW yang diadakan setiap tanggal 6 syawwal   1416 (2005) dihadiri oleh ribuan simpatisan dan jema’ah NW, para Masyaikh Ma’had serta tokoh masyarakat dan pemerintah. Dalam pengajian tersebut PBNW memberikan sambutan yang intinya meyampaikan keberhasilan NW dalam mengembangkan dan mendirikan madrasah, pondok-pondok pesanteren di luar daerah Nusa Tenggara Barat. Setelah sambutan PB NW, pengajian shilaturrahmi di sampaikan oleh TGH. M. Ruslan Zain.
Dalam taushiyahnya, beliau mengapresiasi keberhasilan PB NW dalam mengembangkan organisasi NW. Beliau juga memberikan kritik, mengingat kondisi Ma’had yang kurang mendapat perhatian dari PBNW, sebagai ‘Amid wajar beliau mengutarakan keprihatinan mengingat Ma’had adalah Qurratu A’yun nya Maulana Syaikh Zainuddin ‘Abdul Majid. Ma’had juga merupakan institusi  untuk mencetak kader-kader ulama. Melihat kondisi ma’had  yang terkesan  di “anaktiri” kan seperti itu; gedung tidak punya, tempat belajar tanpa sekat dan tidak memilki ruangan. Sangat kontras dengan lembaga tetangga yakni IAIH  NW yang memilki gedung megah.
Melihat kondisi ini yang dirasa timpang, dalam kesempatan tersebut beliau mengancam Ummi PB. “ Kalau selama kepergian saya ke Makkah (untuk melaksanakan ibadah haji, pen.) Ummi tidak membangun gedung Ma’had, Saya akan keluar dari Ma’had Anjani “ kecam beliau. Sehari setelah ancaman itu, besoknya langsung Ummi PB  memberikan instruksi kepada staf dan jajaran organisasi untuk mewujudkan keinginan TGH.M.Ruslan Zain itu.  Subhanallah....tidak sampai tiga bulan bangunan yang berbentuk letter “ L “  yang terdiri dari beberapa ruang belajar dan Aula 95 % tuntas dan walhamdulillah, sekembali beliau dari dari tanah suci, ternyata gedung Ma’had itu terwujud dan di tempat inilah beliau memberikan pengajian 1 Muharram 1417 H.  Dan..... ternyata,  ancaman itu berbuah gedung!.
11.  Bambupun pasrah
Saat itu  senin pagi, November 2011 seperti biasa jema’ah pengajian senin melakukan kerja gotong royong untuk pembangunan lokal tambahan sebagai ruang belajar. Salah satu bahan untuk menopang suksesnya pembangunan adalah bambu. Puluhan jema’ah usai sarapan pagi beramai-ramai ke kebun miliknya TGH.M. Ruslan Zain. Dalam kerja gotong royong ini, tuan gurupun terlibat langsung didalamnya. Kerjapun dimulai, satu persatu bambu itu tumbang kemudian dipotong-potong sesuai dengan ukuran yang dipesan tukang bangunan.  Satu hal yang terasa unik dan berkesan, saat sepohon bambu nyangkut disela-sela pelepah pohon Enao (Aren). Dapat dibayangkan bagaimana sulitnya menarik batang bambu yang nyangkut di sela-sela pelepah Enau, mengingat bambu memiliki batang-batang cabang kecil dan keras, dalam posisi terjepit disela-sela pelepah enau. Beberapa jema’ah mencoba menarik, toh hasilnya nihil, Bambu tersebut tak bergeming, malah semakin kuat rangkulannya pada pohon enau tersebut.  H.Shabirin, seorang jema’ah senin bepesan pada TGH. M.Ruslan,  “ Guru...., Ndek rowa...., sekat Bambu itupun bagaikan karet elastis
12.  3 lokal 3 minggu
13.  Mudir ash-Shaulatiyah pulang Syekh Muhammad Datang
14.  Dua SK lisan
15.  Kalijaga ikut terjaga
16.  Wasiat versus wasiat
17.  Mengajar sambil berjualan
18.  Mobil baru membawa haru
19.  Hukum rokok heboh
Pada pertengahan tahun 2010 Indonesia gempar dengan fatwa haram mengkonsumsi rokok yang dikeluarkan Majlis Tarjih PP. Muhammadiyah. Jelas fatwa ini mengundang pro dan kontra dikalangan masyarakat Indonesia. Majlis Ulama Indonesia sendiri pecah menjadi dua kubu ada yang ikut mengharamkan dan ada no comment sama sekali. Dapat dimaklumi karena di MUI itu sendiri diisi oleh kalangan cendikiawan Muhammadiyah dan kalangan Nahdliyyin dan ormas-ormas Islam yang berafiliasi kepada kedua organisasi terbesar Indonesia tersebut.
Konon fatwa tersebut lahir karena kebijakan pemerintah agar Indonesia bebas dari rokok, bahkan isyu miring bahwa fatwa tersebut “ pesanan” asing. Rokok dalam beberapa literatur fiqh dibahasakan dengan al-Tanbaku, karena bahan bakunya dari tembakau dan al-Dukhan atau tadkhin karena rokok tersebut mengeluarkan asap. Dikalangan fuqaha rokok termasuk dalam masalah debatable yang pro dan kontra antara mubah dan haram. Dalam Qaidah Ushul Fiqh mengatakan:
الاصل فى الأشياء الإباحة ما الدليل
Asal segala sesuatu itu mubah selama belum ada dalil yang menunjukkan status hukumnya.
Ketika heboh hukum rokok di Indonesia tersebut, wartawan Radar Lombok bertanya kepada TGH.M Ruslan Zain.” Tuan Guru, nunasang bagaimana hukum rokok ? Beliau menjawab dengan diplomatis, “ Hukum dalam fiqih ada  dua bersifat perintah yaitu wajib dan Sunnah, dan ada dua bersifat larangan yakni haram dan makruh.”  Sikap beliau dalam masalah rokok  menghukumi makruh. Besoknya Radar Lombok mengutip pernyataan beliau dengan komentar “ Pendapat  Tuan Guru Ruslan adalah pendapat yang moderat “.
20.  Mengaji saat situasi genting
27 September 2000 di lapangan umum  Wanasaba Lombok Timur, saat itu pukul  09.15 wajah- wajah tenang khusyu’  jama’ah yang mengikuti pengajian Anak Hultah NWDI ke 55 tiba-tiba  berbalik menjadi wajah-wajah tegang, tertusuk, pilu  dan haru biru. Saat itu pengajian sedang berlangsung yang disampaikan oleh ‘Amidul Ma’had TGH. M.Ruslan Zain baru beberapa menit pengajian berlangsung, tiba-tiba suara… Ihtirom Hayyu ,,! Isyarat bahwa Ummi PB sudah rawuh di lokasi pengajian  dan spontanitas ……entah siapa yang memulai, dari arah selatan atau sebelah  kanan jalan tepatnya dari dalam komplek  pondok pesantren NW terdengar  gema takbir Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar ! diiringi dengan lemparan batu, bambu bahkan pedang itupun  menjawab suara Ihtiram Hayyu. Jemaah pengajian tidak terima dengan perlakuan sebelah akhirnya membalas dengan apa adanya. Suara gaduh  dan suara tangisanpun tak terelakkan, banyak jama’ah yang berlumuran darah lari ke depan panggung saat pengajian berlansung untuk minta perlindungan kepada jama’ah yang lain.  Sebagian lagi masih bertahan dalam “perang sabil kecil”  tanpa senjata dan mengandalkan fisik semata. Korban luka-luka  berjatuhan dari kedua pihak bahkan ada yang meninggal dunia. Akhirnya pengajian itupun berakhir dengan duka.
Demi ambisi pribadi dalam sebuah institusi, akal dan hati tak lagi logis nafsu merasuk keserakan menusuk dan setanpun masuk,  maka tanggung jawabpun terbawa awan hilang mengangkasa. Sungguh peristiwa memalukan sekaligus memilukan bagi kalangan nahdhiyyin  saat itu, semua orang yang mengaku NW harus tertunduk malu lesu sembari melukiskan pertanyaan super besar dalam benak  masing-masing, mengapa dan kenapa ini terjadi ?
21.  Malakat al-Taqwa (senang tidak merasa gagah, sedih tidak merasa gundah )
Begitu banyak nikmat Allah SWT, nikmat tersebut bisa dirasakan, dinikmati secara kolektif maupun secara individu. Nikmat-nikmat Allah tersebut sarana bersyukur  dan  mendekatkan seorang hamba kepada Tuhan, Allah Rabbul’ Alamin. Penguasa jagat yang serba maha.

 


[1] Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin ( Semarang : Toha Putra, t.t), 59-70
[2] Wahhabi adalah sebuah sekte yang dominan di Arab Saudi, Sekte ini lahir pada akhir abad 18 atau awal abad 19. Dalam perkembangannya Wahhabi menamakan diri sebagai golongan purifikasi keagaamaan, al-Sunnah dan muwahhidun. Sekte ini berkembang pesat disebabkan konspirasi dengan pihak penguasa keluarga Sa’ud dan saat itu kerajaan Sa’ud di backing oleh imperialis Inggris yang pada masa itu menjajah kawasan Arabia. Wahhabisme merupakan aliran fundamental yang menafsirkan Islam dengan berpegang teguh pada tradisi fiqh Ibn Hambal dan teologi Ibn Taymiyah. Terkadang mereka tidak mengikat diri pada salah satu mazhab alias La Madzhabiyah. Kalangan Wahabi memandang sejumlah amalan yang berlaku dikalangan masyarakat yang secara syar’i dibolehkan dianggap sebagai suatu yang bid’ah, sehingga secara tegas mereka menolak ajaran esotoris dan mistisime dan menolak gagasan adanya Waliyullah. Ciri khas Wahhabi adalah mutawwi’un ( penegak ketaatan) yang menyebabkan mereka meremehkan penganut Islam lainnya, mereka sangat intens dengan sholat berjama’ah, mengenakan  jubah dan celana sebatas betis yang disebut dengan Isbal, dan ciri khas yang paling populer adalah berjenggot dan ada tanda hitam diatas dahi mereka. Alan mereka semua ini merupakan sunnah Nabi saw. Bahkan tidak jarang untuk menjaga tradisi ritual mereka dengan alasan purifikasi, mereka tidak segan-segan memisahkan diri dari kumunitas muslim dengan mendirikan tempat ibadah sendiri.
[3] Blek Bengkok ini merupakan nama wadah gula gending yang bahannya terbuat dari seng bisa juga dari kaleng bekas, biasanya kaleng bekas minyak goreng ukuran 10-15 liter yang kwalitasnya standar menurut “ pande” pembuat  tangkaq gula gending.


Kembali ke Atas


Berita Lainnya :
 Silahkan Isi Komentar dari tulisan berita diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas