Pencarian
Banner
Sinta Risteke-Jurnal
Login Member
Username:
Password :
Statistik

Total Hits : 13136
Pengunjung : 3827
Hari ini : 3
Hits hari ini : 55
Member Online : 16
IP : 18.232.147.215
Proxy : -
Browser : Opera Mini
:: Kontak Admin ::

alanrm82    
Agenda
25 April 2019
M
S
S
R
K
J
S
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

AKTUALISASI MANAJEMEN STRATEGIK BERBASIS ICT DALAM MENINGKATKAN MUTU PEMBELAJARAN DI MADRA

Tanggal : 05-04-2016 18:56, dibaca 64 kali.

AKTUALISASI MANAJEMEN STRATEGIK BERBASIS ICT DALAM MENINGKATKAN MUTU PEMBELAJARAN DI MADRASAH
By: M. Habib Husnial Pardi
Menurut Lawrence R. Jauch dan Wiliam F. Gluech (1998) menjelaskan bahwa pengertian manajemen strategis merupakan sejumlah keputusan dan tindakan yang mengarah pada penyusunan suatu strategi atau sejumlah strategi yang efektif untuk membantu mencapai sasaran perusahaan. Berbeda dengan Wheelan dan Hunger (1995) menjelaskan bahwa manajemen strategis adalah suatu kesatuan rangkaian keputusan dan tindakan yang menentukan kinerja perusahaan dalam jangka panjang. Tercakup di dalamnya mengenali dan menganalisa lingkungan, memformulasi strategi, mengimplementasikan strategi dan melakukan evaluasi berikut pengendalian.
Untuk menjalankan keputusan strategic dalam sebuah organisasi apapun terutama yang bergerak dalam bidang pendidikan atau sebuh institusi pendidikan madrasah perlu didukung oleh sitem informasi yang memadai. Informasi yang diperoleh dari berbagai sumber internal dan eksternal dapat dijadikan sebagai rujukan dalam merencanakan dan memutuskan kebijakan atau tujuan organisasi pendidikan itu sendiri. Untuk memperoleh berbagai informasi dapat dilakukan melalui berbagai sumber-salah satunya- dikenal dengan Imformation Communication and Technology (ICT). Realitas yang berkembang saat ini menunjukkan bahwa perkembangan system informasi melalui Information Communication Technology (ICT) di berbagai negara terutama di Indonesia cendrung meningkat dan telah merambah ke berbagai aspek kehidupan manusia di semua tingkat strata masyarakat apapun. Wajar kemudian, ICT dianggap sesuatu yang tidak asing lagi bagi masyarakat dan dapat menggunakannya kapan saja dan dimana saja sebagai sumber/media komunikasi atau-pun instrument untuk mengakses berbagai informasi yang mereka butuhkan. Bahkan system informasi dalam sebuah organisasi apa-pun yang memiliki visi unggul dan orientasi kompetisi merupakan keniscayaan untuk menggunakan jasa ICT.
Sejarah dan perkembangan sistem informasi dimulai dari era operasional yaitu tahun 1960, ke era informasi mulai tahun 1970, menuju era jejaring (net link) tahun 1980, ke jejaring global tahun 1990 sampai ke era mobile dewasa ini. Dengan perkembangan ini menyebabkan terjadi perubahan peran (role) dari sistem informasi ke arah peran efesiensi, efektifitas dan strategik. Peran efesiensi adalah menggantikan manusia dengan teknologi informasi. Sementara peran efektivitas adalah menyediakan informasi untuk mengambil keputusan manajemen yang efektif, dan selanjutnya peran strategik untuk memenangkan persaingan atau kompetisi. Karena itu ia juga disebut sebagai instrumen ampuh untuk berkompetisi .
Banyak referensi yang memperkuat eksistensi strategis dari ICT yang tidak saja memiliki kontribusi besar pada aspek pendidikan namun juga pada aspek lainnya ekonomi dan sosial. Menurut World Bank menyatakan bahwa Information and Communication Technologies merupakan kunci masuk dalam mengembangkan dan menumbuhkan ekonomi. Mereka menawarkan peluang untuk dapat berintegrasi dengan dunia global untuk menopang identitas dan tradisi masyarakat. ICT dapat meningkatkan ekonomi bagi masyarakat miskin dan memberdayakan individu dan komunitas. Akhirnya, ICT dapat memperbaiki efektifitas, efesiensi dan transfaransi sector public termasuk memberikan pelayanan ke public.
Terlepas dari posisi strategis di atas, eksistensi ICT dalam konteks masyarakat Indoensia melahirkan dua paradigma yaitu bagi sebagian kalangan masyarakat menganggapnya menjadi tantangan besar atau persoalan yang akan mengancam aspek moralitas dan pikiran generasi muda. Dan di sisi lain, menilai ICT penting dan urgen dalam mendukung akses berbagai informasi dan komunikasi. Hasil research menyebutkan bahwa peran ICT pada aspek pendidikan sangat signifikan. Frank N. Tilya yang mengambil setting di Afrika menyebutkan bahwa “a comprehensive policy on ICT for education and training will require involvement participation of many stakeholders in education sector and other related sectors or government ministries . Harry Firman dan Burhanuddin Tola menyebutkan bahwa ke depan aspek pendidikan di Indonesia sangat urgen mengembangkan organisasi pendidikan berbasis ICT . Pendapat lain menyatakan bahwa guru memiliki sikap positif dan percaya terhadap IT dapat meningkatkan kinerja dan prestasi mereka dan memberikan kekuatan dalam mengembangkan teaching-learning processes dan mengembangkan pembelajaran siswa. Bahkan ada pendapat lain yang menyatakan bahwa melalui implementasi technology telah meningkatkan qualitas pendidikan di suatu sekolah . Atas dasar pemikiran di atas, menarik untuk membahas tema tentang aktualisasi manajemen strategic berbasis ICT dalam meningkatkan mutu pembelajaran di Madrasah.

Manajemen Strategik
Istilah dan konsep manajemen strategik bukanlah sesuatu baru. Perspektif sejarah, istilah ini telah digunakan sejak tahun 1970 an, dan pada awalnya dimaksudkan tidak lebih sebagai strategi perencanaan staf- program strategic – yang kemudian dijadikan untuk membuat keputusan (decision maker). Selanjutnya pada tahun 1990 an, tejadi perubahan paradigm terhadap rencana strategi dan manajemen strategi yang dianggap memiliki perbedaan. Oleh Goodstein, Nolan, dan Pfeiffer mendefinisikan rencana strategi adalah cara yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan yang tela ditetapkan. sedangkan konsep manajemen strategic dibangun dari konsep rencana strategi sehingga manajemen strategi mencakup rencana strategic dan evaluasi pelakasanaan rencana tersebut. Manajemen strategik adalah pendekatan sistem untuk mengindentifikasi dan membuat perubahan serta mengukur performance organisasi untuk mewujudkan visi.
Manajemen strategi merupakan pendekatan sistematis untuk memformulasikan, mewujudkan dan monitoring strategi (Toft dalam Rabin et.al 2000:1). Pendapat lain dikemukakan oleh Thompson (2003) Manajemen strategi merujuk pada proses manajerial untuk membentuk visi strategi, penyusunan obyektif, penciptaan strategi mewujudkan dan melaksanakan strategi dan kemudian sepanjang waktu melakukan penyesuaian dan koreksi terhadap visi, obyektif strategi dan pelaksanaan tersebut. Sedangkan Siagian (2004) mendefinisikan manajemen stratejik sebagai berikut : Serangkaian keputusan dan tindakan mendasar yang dibuat oleh manajemen puncak dan diimplementasikan oleh seluruh jajaran suatu organisasi dalam rangka pencapaian tujuan organisasi tersebut.
Sementara itu, Sonhadji (2003:1) mengatakan bahwa manajemen strategic adalah proses formulasi dan impelementasi rencana dan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan hal-hal vital, pervasive dan berkesinambungan bagi suatu organisasi secara keseluruhan. Hadari Nawawi (2005:148-149), pengertian manajemen strategic ada 4 (empat) yaitu (1) proses atau rangkaian kegiatan pengambilan keputusan yang bersifat mendasar dan menyeluruh, disertai penetapan cara melaksanakannya, yang dibuat oleh manajemen puncak dan dimplementasikan oleh seluruh jajaran di dalam suatu organiasasi, untuk mencapai tujuannya; (2) usaha manajerial menumbuhkembangkan kekuatan organisasi untuk mengeksploitasi peluang yang muncul guna mencapai tujuannya yang telah ditetapkan sesuai dengan misi yang telah ditentukan; (3) arus keputusan dan tindakan yang mengarah pada pengembangan strategi yang efektif untuk membantu mencapai tujuan organisasi; (4) manajemen strategik adalah perencanaan berskala besar (disebut Perencanaan Strategik) yang berorientasi pada jangkauan masa depan yang jauh (disebut VISI), dan ditetapkan sebagai keputusan manajemen puncak (keputusan yang bersifat mendasar dan prinsipil), agar memungkinkan organisasi berinteraksi secara efektif (disebut MISI), dalam usaha menghasilkan sesuatu (Perencanaan Operasional) yang berkualitas, dengan diarahkan pada optimalisasi pencapaian tujuan (disebut Tujuan Strategik) dan berbagai sasaran (Tujuan Operasional) organisasi.

ICT dan Organisasi Pendidikan
Organisasi pendidikan terdiri dari sekelompok orang yang saling berintraksi/berkomunikasi satu dengan lainnya untuk satu tujuan yang bergerak pada bidang pendidikan baik level pendidikan dasar ataupun pendidikan tinggi. Secara hirarki, intraksi berlangsung di antara level top- unsur pimpinan/manajer; Kepala Sekolah atau Rektor/Ketua dengan unsur level down-pelaksana teknis (unsur internal organisasi) serta unsur eksternal (stakeholder dan masyarakat) di luar hirarki tersebut. Sedangkan keunggulan kompetetif adalah keunggulan yang ingin dicapai dan dapat dimaknakan sebagai kelebihan sebuah organisasi pendidikan bila dibandingkan dengan organisasi pendidikan lainnya. Karena itu, sistem informasi manajemen harus dapat merubah cara dasar bersaing, menggunakan sistem teknologi informasi, perusahaan tidak saja mengotomatiskan transaksinya, tetapi lebih dari itu dapat mentransformasikan (merubah cara kerja efesien, mengurangi redudansi, mengurangi siklus waktu, mengurangi kertas kerja) dan menginfromasikan.
Ada dua faktor mengapa sistem informasi dalam sebuah organisasi sangat diperlukan; (1) leader/manajer sedang berhadapan dengan lingkungan yang lebih rumit dan dinamis dibandingkan dengan sebelumnya; adanya aturan dan undang dari pemerintah -penyerahan laporan dan sebagainya; manajer harus membuat keputusan lebih cepat dan harus mampu berkompetensi dengan lainnya; (2) fator adanya beberapa organisasi sekolah telah meningkatkan mutu manajernya.
Salah faktor pendukung terciptanya keunggulan kompetetif sebuah organisasi adalah terlaksananya system informasi yang baik dan intens. Sistem informasi tidak harus dimanaje dengan perangkat komputer, namun dengan adanya perkembangan teknologi yang semakin pesat maka sistem informasi yang baik harus didukung oleh teknologi komputer. Dalam sistem informasi manajemen lahir istilah imformation communication dan teknologi (ICT). Bila dicermati dari makna terminologi, maka ICT adalah impelementasi sistem informasi yang dilakukan dengan menggunakan instrument mobile dan komputer.
Beberapa hasil research yang termuat dalam jurnal ditemukan bahwa ICT memberikan dampak yang signifikan terhadap kualitas sebuah organisasi pendidikan. ICT dapat dijadikan sebagai instrumen kompetisi untuk memenangkan persaingan. Keuntungan kompetetif dapat dicapai jika perusahaan mampu mengatasi hubungannya dengan pelanggan, pemasok, produk dan jasa, substitusi, calon pesaing baru dan pesaing lama yang sudah ada. ICT berguna untuk meningkatkan koordinasi dan pengendalian, mengkustomisasi produk untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, menambah nilai produk dan jasa yang sudah ada. Sebuah perusahaan atau organisasi dapat dikatakan memiliki keunggulan kompetetif (kompetetive advantange) jika mempunyai kelebihan dari pesaingnya untuk menarik pelanggang-pelanggan dan dapat mempertahankan diri dari tekanan-tekanan kompetetif .
Beberapa organisasi menjadi padat informasi karena pilihan mereka yaitu memilih untuk mengembangkan sistem informasi yang lebih baik dibandingkan dengan perusahaan atau organisasi lainnya yang sama dengan maksud untuk memperoleh keunggulan kompetetif. Dengan maksud ini juga, mereka merancang sistem informasi dengan biaya serendah mungkin namun mampu melayani keperluan informasi dari berbagai lapisan, tanpa mempertimbangkan apakah sistem informasi bersangkutan dapat memberikan keunggulan daibanding para kompetitor lain. Apabila sebuah perusahaan menginginkan lebih keunggulan kompetitive maka ia harus memaksimalkan sistem informasi secara intensif.
Ada beberapa parameter yang digunakan ketika ITC diimplementasikan ke dalam dunia organisasi pendidikan antara lain; (1) kebijakan pendidikan; (2) pendekatan teknologi; (3) infrastructure; (4) contentware; (5) comitted and trainer personal; (6) financial resources; (7) integration. ICT dalam pendidikan akan berhasil apabila ia dapat berintegrasi dalam sistem pendidikan. Ada tiga tahap dalam proses strategi pengembangan yaitu: (1) definisi; penjajagan kelayakan dan analisis informasi; (2) desain fisik; desain sistem, pengembangan program dan pengembangan prosedur; (3) impelementasi; konversi, operasi dan pemeliharaan, audit.
Menarik untuk dipaparkan bagaimana strategi integrasi ITC dalam sistem pendidikan di beberapa Negara ditemukan bahwa tidak ada sistem pengenalan kepada siswa dan guru tentang penggunaan ICT dalam pendidikan. Namun meraka mengembangkan keahlian guru dalam standar kurikulum yang dibuat dengan skill khusus dan kompetensi yang harus dimiliki terkait dengan ITC. Dengan kata lain, pengenalan terhadap ITC lebih banyak ditekankan pada pemberian pre-service education pada bidang ICT. Sementara itu, di Germany menerapkan in-service models yang lebih luas. Meskipun ada perbedaan strategy integrasi di beberapa Negara tersebut tergantung pada tingkat pengembangan dan ide strateginya. Hasil research lainnya yaitu OECD (1992) ditemukan juga bahwa ada dua tingkat pengetahuan dan keahlian yang diperoleh bagi guru yang menggunakan ICT dalam ruang kelas yaitu (1) pengetahuan yang berhubungan dengan hardware dan software, dan (2) aplikasi pedagogic dari teknologi informasi .
Selanjutnya organisasi pendidikan dapat menerapkan model yang selama ini diaplikasikan dalam sebuah perusahaan untuk mencapai keunggulan kompetetif yaitu keunggulan strategis, keunggulan taktis dan keunggulan oprasional . Keunggulan Strategis yaitu keunggulan strategis adalah keunggulan yang memiliki dampak fundamental dalam membentuk oprasi perusahaan. Keunggulan Taktis yaitu keunggulan kompetetif yang diperoleh oleh organisasi atau perusahaan ketika mengimplementasikan strategi yang lebih baik dengan kompetitornya. Melalui ICT, organisasi pendidikan akan dapat menawarkan kepada pelanggan akses langsung ke data informasi. Karena pada dasarnya semua pelanggan ingin memberikan pelayanan yang terbaik bagi pelanggannya. Misalnya, akses informasi pendaftaran dengan menawarkan dispensasi dll. Dengan demikian, keputusan strategis adalah menjadikan sistem informasi perusahaan/organisasi tersedia bagi para pelanggan untuk meningkatkan layanan pelanggan. Organisasi pendidikan mengembangkan sistem informasi taktis yang tidak hanya akan meningkatkan kepuasan pelanggan namun juga akan meningkatkan profitabilatas. Sedangkan Keunggulan oprasional adalah keunggulan yang berhubungan dengan transaksi dan proses sehari-hari.
Dampak TIK pada staf Akademik: perubahan perilaku staf Akademik, memberikan layanan yang memenuhi misi dasar universitas. Kelompok ini adalah salah satu yang biasanya menjadi sasaran program perubahan dan upaya pembelajaran organisasi. Menurut Mintzberg (1979), Birokrasi Profesional untuk koordinasi bergantung pada standarisasi keterampilan dan parameter yang terkait desain, pelatihan dan indoktrinasi. “sistem bekerja karena semua orang tahu orang lain tahu kira-kira apa yang sedang terjadi” (Meyer dikutip dalam Mintzberg, 1979, hal 349). Standarisasi pengetahuan profesional kompleks membutuhkan waktu yang lama pelatihan tetapi tetap bidang cukup discretional. “Pelatihan dan indoktrinasi adalah urusan rumit di Birokrasi Profesional. Semua pelatihan ini ditujukan untuk satu tujuan – internalisasi standar yang melayani klien dan mengkoordinasikan kerja profesional “(Mintzberg, 1979).
Meskipun teknologi telah mengubah cepat dalam seratus tahun terakhir, proses belajar-mengajar telah mempertahankan dasar-dasar yang karakteristik. Cara transmisi pengetahuan di kelas saat ini tidak berubah terlalu banyak. Cara kami terus mengirimkan pengetahuan berakar dalam tradisi kita sebagai manusia. UMP Ganesh (1998) diberi label sebagai “praktik”, konvensi, adat istiadat, kebiasaan, tradisi dan penggunaan, karena mereka terlihat oleh pengamat, dan mereka memahami bahwa makna budaya mereka terletak pada cara mereka dirasakan oleh orang dalam. Nilai pendiri dan pemimpin kunci bentuk budaya organisasi tetapi cara budaya ini mempengaruhi anggota biasa adalah melalui berbagi persepsi tentang praktek sehari-hari. Dengan demikian, persepsi positif tentang teknologi mengadopsi akan mengubah sikap terhadap TIK dan penggunaan itu. (Liu dan Tucker, 2002). Dalam konteks ini, memahami bahwa untuk menggabungkan perubahan yang mendalam dalam proses belajar-mengajar menggunakan ICT itu adalah jalan panjang dan berliku. Hal ini membutuhkan perubahan perilaku pada staf akademik yang berkaitan dengan sikap dan persepsi terhadap menggunakan ICT.
Setelah Teori Aksi beralasan (Fishbein dan Ajzenis, 1975), sikap merupakan tingkatan kasih yang aktor merasa “atau melawan” ICT. Davis (1989) menunjukkan bahwa sikap orang untuk penggunaan teknologi informasi yang secara langsung berkaitan dengan persepsi orang-orang ini telah tentang teknologi. Haywood dkk (2000) Disurvei sampel dari manajer senior, staf akademik dan “ahli” dari semua Lembaga Pendidikan Tinggi Skotlandia untuk mengumpulkan pendapat mereka tentang penggunaan teknologi pembelajaran. Mereka dianggap mempelajari teknologi sebagai alat yang dapat meningkatkan kualitas proses pengajaran dan mengakui bahwa mereka memiliki potensi untuk meningkatkan belajar siswa. Motivasi siswa untuk belajar meningkat ketika menggunakan situs internet dengan alat-alat multimedia pendidikan (Gilliver dkk, 1998.).
ICT menggunakan mewakili tingkat penggunaan dan memungkinkan mengumpulkan informasi tentang cara-cara kreatif menggunakan ICT dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini memerlukan bukan hanya pelatihan dan keterampilan khusus tetapi komunikasi dan kemampuan interaktif juga. Memasukkan ICT dalam universitas adalah kesempatan besar untuk menggunakan teknologi baru sebagai alat untuk mendorong berpikir ulang mengajar dan belajar praktek, bukan hanya mentransfer praktek dibuat ke lingkungan online. Dalam hal ini, teknologi menjadi media untuk mendorong pertumbuhan profesional (Kenny & Mc sia;. 2000).

ICT dan Kegiatan Pembelajaran
Untuk memahami ICT dalam bidang pendidikan atau bagaimana kualitas pendidikan dapat ditingkatkan melalui ICT, maka ada tiga aspek yang harus diperhatikan yaitu aspek manajemen, aspek proses kerja, dan training pendidikan bagi guru dan pegawai. Pada aspek manajemen ICT telah memberikan kontribusi besar dalam bentuk networking diantara sekolah dan universitas, dan diantara individu dalam sekolah dan universitas. Statemen ini diperkuat oleh adanya potensi ICT dalam mendukung kegiatan pembelajaran yang dapat dilakukan ‘anywhere, anytime, dan anyhow’. Sehingga dengan ICT, knowledge tidak diperoleh berdasarkan letak geograpis semata namun dapat diakses dalam wilayah yang lebih luas.
Dalam kegiatan pembelajaran berbasis ICT, para guru dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat berkerja dan belajar dengan media digital, mengembangkan kreatifitas dan menambah motivasi belajar bagi mereka . Penggunaan ICT dapat mempertegas identitas organisasi, membangun komunitas pembelajaran, menjaga anggota staf, klien, dan informan lain dalam rangka membangun sikap koopratif, menciptakan harapan, membantu hubungan antara orang, mengembangkan akses terhadap pengetahuan dan ide mereka, memperluas inovasi, creativitas, share dan belajar . Melalui ICT sekolah telah memiliki kekuatan lebih dalam mewujudkan rencana inovasi dalam kegiatan pendidikan.
Pada tingkat aplikatif proses learning, ICT dapat memberikan perubahan pola kerja bagi siswa dan guru dengan menciptakan networking langsung dengan sekolah lain atau secara tidak langsung menginformasikan data base mereka dalam World Wide Web. Ia juga dapat merubah kerja siswa dan guru dalam kegiatan belajar dan mengajar. Bagi siswa dapat mengerjakan tugas sekolah menggunakan sumber Web, menyiapkan paper dalam komputer masing-masing, konsultasi langsung dengan guru atau sharing dengan teman-temannya. Sedangkan bagi guru, dapat mengkonsultasikan lesson plan ke pimpinan, dapat berintraksi dengan guru lain untuk sharing idea tentang berbagai metode pengajaran, dan dapat meningkatakn kepercayaana diri (self confidence) dan kreativitas peserta didik.
Contoh perubahan yang signifikan dalam praktiknya di sekolah adalah apa yang telah diterapkan di United States yang memperkenalkan laptop bagi semua peserta didik dan telah melatih semua guru dalam mengorganizir kegiatan pembelajaran peserta didik dengan mengerjakan semua assignment mereka pada masing-masing laptop. Sistem ini dilaksanakan oleh NetSchools, khususnya dalam merubah pola pembelajaran guru dan siswa dengan tujuan untuk mengembangkan performance akademik peserta didik. Hasilnya cukup signifikan yaitu peserta didik dapat meningkatkan keterampilan menulis mereka seperti melengkapi tugas yang bersipat take home dan menghabiskan waktu mereka sebaik-baiknya dengan menggunakan Web resources, termasuk akses databases yang dikembangkan oleh NetSchools untuk membantu peserta didik dalam menyelasaikan coursework mereka. Selain itu, guru juga dapat berkomunikasi dengan para wali murid lebih efektif melalui laptop siswa dan menggunakan NetSchools’ databas-es untuk mengembangkan pengajaran serta menggunakan pendekatan teacher-student connection untuk meningkatkan komunikasi atar mereka melalui laptop. Sedangkan hubungan dengan guru lain dan administrator, maka guru dapat melihat berbagai dokumentasi dan meraka dapat berintraksi dengan guru lain, sharing pengalaman dan memberikan kritik. .
Dampak ICT terhadap peserta didik yaitu memberikan akses yang lebih luas terhadap berbagai sumber referensi. They appreciate the choice but many students feel overwhelmed by this profusion of resources. More than half of the students in the focus groups have a computer at home as well as access in College and can search for information regardless of time and place. This means that students, some of whom are working part-time, have some flexibility as to when they do their College work. However, computers in FE colleges are often located in IT rooms, that are used for teaching or in Libraries/Learning Resource Centres that are closed in the evenings and at weekends. So access is sometimes an issue. Students use ICT mainly for word processing and feel that it is quick and easy to edit and amend their work and improve the presentation of assignments using ICT. However, some tutors feel that students’ ability to analyse and synthesise information is deteriorating as they rely upon “cutting and pasting” information into essays without absorbing the subject content .
Dalam pelaksanaan belajar mengajar melalui ITC, posisi guru sangat strategis dan vital agar kegiatan dapat berjalan seoptimal mungkin. Dalam realitasnya, para guru kurang menguasai teknologi sebagai hasil research yang mengatakan bahwa Guru harus menguasai ICT (programnya dan cara mengoprasionalkan). Salam satu problemnya adalah saat ini para guru perlu belajar untuk mengajar dengan digital technology sementara diantara mereka belum bias mengunakannya . Sementara itu McKinsey menyatakan bahwa kualitas pembelajaran dipengaruhi oleh (1) getting the right people to become teachers, (2) developing them into effective teachers, and (3) ensuring that the system is able to deliver the best possible instruction to every child.”
Pendapat lain, guru harus memiliki kreteria sebagai berikut: (1) Teachers Training Actions Goals Should Be To Develop Competencies. Kompetensi dimanakan sebagai sistem kegiatan yang komplek yang mengintegrasikan knowledge, practical skills, attitudes, value orientation, emotions dan komponen prilaku sosial yang bersama memobilisasi aksi yang efektif. Dengan kata lain, kompetensi mungkin dapat ditunjukkan dalam konteks. Sehingga, kompetensi merupakan kombinasi beberapa atribut professional; (2) guru harus didesain agar dapat mengajar dengan prinsif pembelajaran active; (3) guru harus dibiasakan dengan berbagai pendekatan; (4) guru harus memiliki harapan; (5) Guru harus dievaluasi ; Tidak diragukan lagi bahwa setiap orang memiliki kemampuan untuk mengakses dan memproses informasi menjadi factor penentu integrasi mereka tidak saja dalam lingkungan kerja tetapi juga dalam kehidupan sosial dan lingkungan budaya mereka. .
Sementar itu, alasan mengapa ITC perlu diinternalisasikan dalam Pendidikan sebagai berikut: (1) alasan Ekonomi yang memiliki fokus pada kebutuhan yang dirasakan ekonomi dan persyaratan untuk memenuhi kebutuhan belajar keterampilan dan ekonomi informasi; Sosial alasan yang berfokus pada fasilitas dengan ICT menjadi prasyarat untuk partisipasi dalam masyarakat dan lapangan kerja, sehingga kompetensi ICT dipandang sebagai keterampilan hidup yang penting dan dasar untuk mempertahankan dipekerjakan sepanjang hidup; (2) alasan pedagogical yang berkonsentrasi pada peran ICT dalam pengajaran dan pembelajaran dan cara-cara di mana ICT dapat meningkatkan luas dan kekayaan belajar, menumbuhkan motivasi untuk belajar, dan mendukung pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi (OECD, 2001)

Manajemen Strategik dalam Pembelajaran
Dalam menghadapi arus globalisasi dan modernisasi ini, dunia pendidikan dihadapkan pada sebuah realitas yang menuntut sebuah kemajuan dan keunggulan dalam berkompetisi dengan competitor lainnya. Dukungan (penerapan) teknologi dalam menjalankan setiap kegiatan pembelajaran menjadi sebuah keharusan yang tak terhindarkan. Di sisi lain, harus diakui juga bahwa untuk memenuhi kebutuhan technology dibutuhkan budget besar.
Selanjutnya, ruang lingkup aktualisasi manajemen strategik berbasis ICT dalam kegiatan pembelajaran tidak harus ditafsirkan dalam perspektif yang sempit. Karena dalam setiap kegitan pembelajaran dimakanakan sebagai kegiatan sadar yang dilakukan oleh guru dan murid terkait dengan pembelajaran, berintraksi dan berkomunikasi dalam lingkup internal mereka dan eksternal mereka untuk mencapai tujuan yang sama dalam kegiatan pendidikan. Secara hirarki, maka ruang lingkup kegiatan pembelajaran melibatkan semua unsur dalam sebuah organisasi pendidikan madrasah terdiri dari kepala sekolah yang berperan sebagai manajer dan leadership, bagian administrasi, wakasek, wali kelas, unit-unit pendukung, kelompok guru, siswa, komite sekolah, masyarakat, dan stakeholder. Secara keseluruhan, masing-masing unsur ini sayogyanya bekerja sesuai dengan posisi dan fungsinya untuk dapat menciptakan sebuah organisasi pendidikan yang kompetetif. Karena tidak mungkin sebuah organisasi apapun apabila salah satu unsur komponennya tidak bekerja atau tidak dapat berjalan dapat menciptakan keunggulan.
Untuk dapat menciptakan sebuah kegiatan pembelajaran berbasis ICT, maka ada beberapa point yang harus dipenuhi sebagai berikut:

1. Kebijakan Pendidikan
Kebijakan pendidikan merupakan aturan atau undang-undang dari pemerintah yang mengatur tentang implementasi ICT dalam dunia pendidikan. Wujud kebijakan ini juga merupakan legalitas dan dasar dalam mebuat kebijakan atau keputusan bagi kepala sekolah sebagai manajer dan leadership. Dalam konteks Indonesia secara keseluruhan implementasi pendidikan terutama pada level sekolah dasar ke menengah selau mengacu pada kebijakan pendidikan yang dibuat oleh pemerintah. Bisa jadi apabila suatu sekolah tidak menjalankan kebijakan tersebut besar kemungkinan akan ditutup. Atas dasar ini, maka kebijakan pendidikan yang beorientasi pada ICT sangat diperlukan. Misalnya, kebijakan pemerintah tentang pelaporan EMIS masing sekolah harus dilakukan melalui technology yaitu E-mail. Dengan kebijakan ini, maka tidak ada opsi bagi sekolah untuk tidak memahami ICT dan mengunakan teknologi.

2. Visi dan misi berorientasi pada teknologi
Atas dasar kebijakan pendidikan di atas, manajer (kepala sekolah) harus mengkonstruksi visi dan misi yang berorientasi pada teknologi. Visi dan misi menjadi penting dan urgen sebagai pedoman dalam menyusun strategi dan rencana program dalam mencapai tujuan. Untuk dapat menjadi competitor yang kuat, maka visi dan mis harus jelas, dipahami dan dapat dilaksanakan oleh semua orang dalam organisasi pendidikan tersebut. Dalam referensi manajemen strategic disebutkan bahwa hanya organisasi yang memiliki visi dan misi jelas dan kuat-lah yang mampu menjadi competitor unggul dapat eksis dan maju.
Di sisi lain, kehadiran teknologi dalam sebuah organisasi tidak selamanya berdampak negatif terutama terkait dengan pengurangan peran manusia, tetapi sebaliknya menurut Osterman (1986) berpendapat bahwa teknologi informasi memiliki kecenderungan untuk meningkatkan jumlah karyawan yang diperlukan untuk jangka waktu tertentu. ICT berpotensi meningkatkan produktivitas, tidak untuk mengurangi jumlah pekerja yang diperlukan tetapi untuk mengatasi meningkatnya jumlah pekerjaan. Dalam beberapa kasus informasi dan komunikasi teknologi melengkapi bukan menggantikan tenaga kerja.

3. Unit (departemen) Informasi
Ada tiga kegiatan dalam melaksanakan sistem informasi manajemen melalui ICT yaitu input data yang bersumber dari internal dan eksternal, proses data mentah, dan output data untuk digunakan. Untuk dapat melaksanakan ketiga kegiatan itu secara maksimal dan professional, maka dalam sebuah organisasi diperlukan unit informasi. Dalam teori organisasi, pemetaan orang dan pekerjaan dapat dilakukan dengan membentuk departemen. Karenanya, istilah unit dapat diganti departemen sistem informasi. Selain itu, penempatan orang dalam departemen ini penting untuk dipertimbangkan dari berbagai syarat yang ada khususnya latar disiplin keilmuan dan professionalismenya.
4. Kemampuan teknologi bagi Guru dan staf
Ada kasus yang menarik untuk disampaikan yaitu ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan tentang pendirian Madrasah/Sekolah Model di setiap kabupaten di Indonesia. Masing-masing madrasah/sekolah disuply kurang lebih 30-40 unit computer. Ironisnya, perangkat hadware ini hanya menjadi tontonan saja tanpa perna disentuh atau digunakan. Realitas ini menunjukkan bahwa human resources yang dimiliki oleh masing-masing madrasah/sekolah sangat minim pengetahun/kemampuan teknologi. Kasus ini memberikan pelajaran berharga bahwa human resources perlu mendapat perhatian lebih dulu sebelum ICT diterapkan.
Karena itu, teknologi baru menuntut peran guru baru, pedagogic baru, pendekatan baru terhadap pelatihan guru . Keberhasilan integrasi ICT dalam ruang kelas tergantung kemampuan guru untuk menentukan lingkungan pembelajaran, menggunakan technology, mengembangkan keaktifn kelas, menerapkan intraksi pembelajaran yang koopratif, dan kolaborasi pembelajaran.

5. Pengadaan Hadwere dan sofwere
Harus diakui bahwa untuk dapat memenuhi kebutuhan perangkat ITC diperlukan budget yang besar. Bisa jadi hanya organisasi pendidikan besar saja yang dapat melaksanakan ICT. Namun kondisi ini dapat disiasati dengan pengadaan secara bertahap. Di beberapa kasus, banyak guru yang berhasil mengajarkan TIK kepada siswanya dengan menggunakan 1 perangkat laptop-nya bila dibandingkan dengan madrasah/sekolah yang memiliki beberpa computer.

6. Komitmen
Adanya komitmen atau konsistensi dari semua unsur dalam organisasi dapat mempermudah terciptanya organisasi pendidikan yang unggul. Ia juga berperan dalam menjaga keseimbangan (balance) organisasi. Dengan kata lain, semangat dan gairah semua unsur yang terkait dalam organisasi tetap tetap terjaga. Adanya organisasi pendidikan yang labil dalam menjalankan sebuah program selalu dipicu oleh kurang konsisten human resources terutama kepala sekolah sebagai manajer.

7. Evaluasi
Pelakanaan evaluasi menjadi penting untuk memperoleh feedback terhadap pelaskanaan suatu program. Hasil evaluasi dapat menentukan langkah-langkah strategis dalam menetapakn program lanjutan. Ini disebabkan karena dinamika organisasi pendidikan ditentukan oleh dinamika kehidupan masyarakat/stakeholder setempat serta organisasi pendidikan lainnya.

Selanjutnya, ada beberapa tahap yang harus dilakukan untuk mengaktualisasikan manajemen strategic berbasis ICT dalam mewujudkan mutu pembelajaran di Madrasah antara lain:
1. Analisis Lingkungan Internal yang meliputi kekuatan (strength), kelemaham (weakness) dan Analisis Eksternal yang meliputi peluang (opportunaity) dan ancaman (threat). Terkait dengan analisis lingkungan, oleh Sonhadji (2003) disebutkan bahwa analisis SWOT adalah salah satu tahap dalam manajemen strategik, yang merupakan suatu pendekatan analisis lingkungan. Analisis lingkungan meliputi dua unsur yaitu analisis eksternal dan analisis internal (analisis organisasi). Analisis lingkungan exsternal meliputi identifikasi dan evaluasi aspek-aspek sosial, budaya, politik dan teknologi serta kecendrungan yang mungkin berpengaruh pada organisasi. Kecendrungan ini umumnya merupakan factor yang sukar diramalkan (unpredictable) atau memiliki derajat ketidakpastian (degree of uncertainty) tinggi hasil dari analisis lingkungan eksternal adalah sejumlah peluang yang harus dimanfaatkan oleh organisasi (opportunities) dan ancaman yang harus dicegah (threats). Sedangkan analisis internal meliputi persepsi yang realistis atas segala kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses) yang dimiliki organisasi.
2. Memetakan isu-isu strategis yang dihadapai oleh dunia pendidikan. Pemetaan isu-isu strategis merupakan deskripsi detail dan akurat yang terjadi dalam dunia pendidikan baik yang menyangkut berbagai persoalan yang berkembang maupun arah kebijakan pemerintah. Selain itu, isu-isu strategis yang menyangkut kebutuhan peserta didik, masyarakat, stakeholder dan dunia kerja.
3. Memetapkan program kerja prioritas berdasarkan hasil kajian analisis internal dan eksternal serta isu-isu strategis lainnya. Konstruksi program kerja perioritas sayogyanya dilakukan dengan hati-hati dan memiliki pijakan yang jelas berdasarkan berbagai hasil kajian dan analisis lapangan. Dalam perpsektif manajemen strategic konstruksi program kerja merupakan rencana strategis sebuah organisasi pendidikan yang difokuskan pada kegiatan pembelajaran dalam konteks mencapai visi dan misi organisasi pendidikan umumnya disebut dengan RENSTRA.
4. Menetapkan indicator keberhasilan. Indicator keberhasilan dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menentukan tingkat keberhasilan program kerja yang telah dikerjakan. Dalam menentukan indicator keberhasilan kegiatan pembelajaran harus mengacu pada visi dan misi yang diuraikan secara konkrit dalam setiap program kerja.
5. Melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program pembelajaran sebelumnya sebagai dasar atau pedoman untuk menentukan langkah strategis selanjutnya.

Kesimpulan
Sejalan dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat memberikan kemudahan bagi masyarakat/stakeholder untuk dapat mengkases berbagai informasi dari berbagai sumber. Aktualisasi manajemen strategic berbasis ICT dalam meningkatkan mutu kegiatan pembelajaran di Madrasah dapat dijadikan sebagai acuan konkrit dalam mencapai misi dan tujuan pembelajaran. Pada tingkat aplikasi pembelajaran, ditemukan bahwa dengan menggunakan teknologi kegiatan pembelajaran lebih baik dan berkualitas. Aktualisasi manajemen strategic berbasis ICT dalam meningkatkan mutu pembelajran di Madrasah dapat dilakukan dengan memenuhi point-point sebagai berikut; (1) adanya Kebijakan Pendidikan; undang-undang dan peraturan; (2) adnya Visi dan misi berorientasi pada teknologi; (3) adnya unit (departemen) Informasi; (4) Tersedianya human resources yang kompeten dalam teknologi; (5) adanya pengadaan Hadwere dan sofwere; (5) Komitmen (6) dan evaluasi.



Pengirim :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas